Oktober 30, 2026

Sungai Kapuas Surut, Pertamina Andalkan Jalur Alternatif Untuk Pasokan BBM di Kalbar

502e5bf5-5c88-4db9-9859-aea26cac10d6
KILASKALBAR – Surutnya sejumlah sungai, termasuk Sungai Kapuas, menjadi salah satu kendala distribusi bahan bakar minyak (BBM) ke wilayah hulu Kalimantan Barat. Kondisi tersebut membuat pasokan ke sejumlah daerah, termasuk Sintang, tidak dapat sepenuhnya mengandalkan jalur distribusi reguler.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, mengatakan Pertamina kini menerapkan pola distribusi alternatif untuk menjaga penyaluran BBM tetap berlangsung di tengah kendala alam.
“Faktor alam sejak terjadi surutnya beberapa sungai, termasuk Kapuas, itu menyebabkan suplai yang sampai ke depot Sintang misalnya, tidak bisa terlayani dengan baik,” ujar Edi saat memantau distribusi BBM di Integrated Terminal Pontianak pada Rabu (15/10/2026).
Ia menjelaskan, sistem distribusi Pertamina mengenal pola reguler, alternatif, dan darurat atau Regular, Alternative, Emergency (RAE). Saat ini, penyaluran berada pada pola alternatif sehingga sebagian pasokan yang sebelumnya dilayani melalui Sintang dialihkan ke depot Pontianak.
“Akibatnya semua itu dalam sistem distribusi kita ada yang namanya RAE, di mana yang reguler kemudian yang alternatif dan emergensi, dan sekarang kita berada pada posisi alternatif. Yang dulu dilayani di Sintang itu kebanyakan beralih ke sini,” katanya.
Meski demikian, Pertamina telah mengoperasikan depot penyangga di Tayan untuk mendukung distribusi Biosolar. Sementara itu, sebagian besar produk BBM lainnya masih mengambil pasokan dari depot Pontianak.
Edi menyebutkan, penambahan depot penyangga di wilayah lain berpotensi menjadi bagian dari pembahasan untuk mendukung distribusi ke daerah-daerah yang jauh dari Pontianak. Namun, realisasinya memerlukan koordinasi dengan berbagai pihak.
“Kalau kita bicara penambahan depot ini melibatkan banyak pihak. Baik ketersediaan lahan dan lain-lain, koordinasi kita dengan pemerintah sampai saat ini terus berjalan,” ujarnya.
Selain ketersediaan lahan, perbaikan infrastruktur jalan juga menjadi salah satu aspek yang perlu dikoordinasikan guna mendukung kelancaran distribusi energi ke wilayah yang sulit dijangkau.
“Kami tetap berkomitmen untuk terus menyalurkan energi ke masyarakat, kami lakukan tambahan armada perbantuan,” katanya.
Ia juga memastikan terminal darurat Tayan telah beroperasi untuk mendukung penyaluran BBM hingga Sintang, sehingga diharapkan dapat membantu mempersingkat waktu distribusi.
Di sisi lain, Edi menjelaskan antrean di SPBU juga dapat dipengaruhi kondisi operasional di lapangan. Pada situasi tertentu, antrean untuk Pertalite dan Biosolar dapat memanjang, sementara keterbatasan luas halaman SPBU membuat antrean terlihat hingga ke jalan.
“Banyak SPBU kita yang secara luasan halamannya itu tidak besar, tidak luas, jadi jika terjadi antrean itu langsung mengular dan kelihatan sekali di jalan,” ujarnya.
Pertamina menyatakan terus melakukan upaya distribusi alternatif dan koordinasi dengan pemerintah untuk menghadapi tantangan penyaluran BBM di Kalimantan Barat. Penambahan fasilitas penyangga dan perbaikan infrastruktur masih memerlukan pembahasan lebih lanjut dengan pihak-pihak terkait.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *