Pantau Distribusi BBM hingga Malam, Pertamina Operasikan Pengisian 24 Jam dan Tambah Armada di Kalbar
KILASKALBAR – PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan meningkatkan operasional pengisian bahan bakar minyak (BBM) menjadi 24 jam serta menambah dukungan armada pengangkut untuk menjaga kelancaran distribusi energi di Kalimantan Barat. Langkah tersebut dilakukan di tengah kendala distribusi akibat surutnya sejumlah sungai yang memengaruhi penyaluran BBM ke wilayah hulu.
Upaya itu dipastikan melalui kegiatan pemantauan operasional dan pendistribusian BBM yang dilakukan Pertamina hingga malam hari di Itegrated Terminal Pontianak pasa Kamis (15/10/2026).
IT Manager Pontianak PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Adi Wahyu Christianto, mengatakan pemantauan tersebut bertujuan memastikan operasional tetap berjalan dan kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi.
“Maksud dan tujuan kunjungan malam ini yaitu untuk memastikan bahwa operasional kami terus berjalan, untuk menjaga komitmen kami untuk terus melayani masyarakat, untuk menjaga kebutuhan energi masyarakat agar tetap lancar dan konsisten,” ujar Adi.
Ia menjelaskan, jam operasional yang sebelumnya berlangsung selama 16 jam kini ditingkatkan menjadi 24 jam untuk mengoptimalkan pelayanan dan mendukung kelancaran penyaluran BBM.
“Operasional kami sebelumnya memang 16 jam, namun untuk memastikan bahwa pelayanan kami tetap berjalan secara optimal, kami tingkatkan pelayanan kami hingga mencapai 24 jam terus mengisi,” katanya.
Selain meningkatkan jam operasional, Pertamina juga memperkuat armada pengangkut BBM melalui dukungan kendaraan bantuan dari Jawa bagian Barat dan Jawa bagian Tengah.
Menurut Adi, armada bantuan tersebut mencakup kendaraan berkapasitas 24 kiloliter (KL) dan 16 KL. Dukungan tambahan juga diberikan melalui penambahan awak mobil tangki untuk membantu kelancaran distribusi.
“Betul, kita ada peningkatan penyaluran dan tentunya dengan dukungan armada tersebut sangat memperlancar distribusi untuk menyalurkan energi ke masyarakat,” ujarnya.
Adi menambahkan, Pertamina juga mengoptimalkan kesiapan kapal untuk mendukung proses pembongkaran BBM, baik di area outer bar maupun inner bar, sesuai kebutuhan operasional.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan PT Pertamina Patra Niaga, Edi Mangun, menjelaskan bahwa kendala distribusi saat ini berkaitan dengan kondisi alam, terutama surutnya sejumlah sungai, termasuk Sungai Kapuas.
Kondisi tersebut berdampak terhadap kelancaran pasokan ke sejumlah wilayah, termasuk Sintang. Pertamina pun menerapkan pola distribusi alternatif untuk mengantisipasi terganggunya jalur reguler.
“Faktor alam sejak terjadi surutnya beberapa sungai, termasuk Kapuas, itu menyebabkan suplai yang sampai ke depot Sintang misalnya, tidak bisa terlayani dengan baik,” kata Edi.
Untuk mendukung distribusi, Pertamina telah mengoperasikan terminal darurat atau depot penyangga di Tayan, khususnya untuk Biosolar. Fasilitas tersebut membantu penyaluran BBM ke wilayah yang dilayani, termasuk hingga Sintang.
Edi mengatakan terminal darurat Tayan dapat mempermudah distribusi, terutama dari sisi waktu penyaluran.
“Terminal darurat Tayan sudah beroperasi, Alhamdulillah, dan digunakan untuk men-support wilayah hingga sampai Sintang. Jadi sangat mempermudah dari segi waktu penyaluran BBM,” ujarnya.
Melalui peningkatan jam operasional, dukungan armada, dan pemanfaatan fasilitas penyangga, Pertamina berupaya menjaga distribusi energi kepada masyarakat tetap berjalan di tengah tantangan geografis dan kondisi alam di Kalimantan Barat.
