Sua Budaya 2026 Jadi Ruang Refleksi Ekosistem Seni dan Budaya Kalbar
KILASKALBAR – Gelaran “Sua Budaya” yang diinisiasi Badan Musyawarah Kebudayaan (BAMUSBUD) Kalimantan Barat resmi berakhir. Meski demikian, semangat membangun ekosistem seni dan budaya yang kritis serta inklusif disebut terus berlanjut.
Kegiatan yang dipusatkan di Port 99 Pontianak itu tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun pertama BAMUSBUD, tetapi juga ruang refleksi bersama bagi pelaku seni dan pemangku kepentingan kebudayaan di Kalimantan Barat, Kamis (19/3/2026).
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat, Sy. Faisal Indahmawan Alkadri, mengatakan Sua Budaya menjadi bentuk komitmen dalam memperkuat arah pembangunan kebudayaan di daerah.
“Sua Budaya 2025 sudah selesai secara seremonial, tapi komitmen kita untuk membangun ekosistem seni budaya yang kritis, terbuka, dan penuh perhatian pada sesama tetap berjalan,” ujarnya.
Menurut Faisal, penguatan ekosistem budaya memiliki hubungan erat dengan pembangunan manusia di Kalimantan Barat.
Diskusi dalam Sua Budaya turut membahas bagaimana seni dan budaya dapat berkontribusi terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK).
Ia menilai budaya tidak hanya sebatas pelestarian tradisi, tetapi harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Ini adalah ruang reflektif bagi semua pihak. Kita ingin budaya menjadi landasan dalam bersikap dan berpikir,” katanya.
Peringatan satu tahun BAMUSBUD juga menjadi momentum evaluasi terhadap sinergi antar pelaku seni dan budaya di Kalimantan Barat.
Kehadiran berbagai komunitas seni dalam kegiatan tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan akan ruang dialog lintas disiplin yang mampu memperkuat kolaborasi budaya di daerah.
Melalui tagar #suabudaya dan #bamusbud, gerakan kebudayaan tersebut diharapkan terus berkembang, baik melalui media sosial maupun aksi nyata di lapangan, guna menjaga pertumbuhan ekosistem seni dan budaya Kalimantan Barat secara berkelanjutan.
