Marak Pengibaran Bendera Kedaerahan, Ria Norsan Sebut Rasa Kebangsaan Mulai Menipis
Istimewa
KILASKALBAR – Menyoroti banyaknya pengibaran bendera kedaerahan, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menilai mulai menipisnya rasa kebangsaan di tengah masyarakat.
Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama karena munculnya penggunaan bendera atau simbol yang lebih menonjolkan identitas kedaerahan.
Ria Norsan mencontohkan adanya pengibaran bendera yang membawa identitas daerah di sejumlah wilayah.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya memperkuat kembali rasa kebangsaan dan kecintaan terhadap Indonesia.
“Saya melihat sekarang ini bahwa rasa kebangsaan sudah mulai sedikit menipis. Di Papua sudah mengibarkan bendera Papua, di Aceh sudah mengibarkan bendera Aceh, di Kalimantan sudah mengibarkan bendera Borneo Kalimantan,” ujarnya usai melakukan Upacara HUT ke-81 RI di Kantor Gubernur Kalbar, Senin, (17/7/2026).
Menurutnya, persoalan tersebut tidak terlepas dari pentingnya generasi muda memahami sejarah bangsa. Ia mengingatkan kembali pesan Presiden Soekarno melalui istilah “Jas Merah”, yakni jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Ria Norsan menilai pembelajaran sejarah perjuangan bangsa perlu kembali diperkuat. Ia khawatir generasi muda tidak mengetahui sejarah bangsanya sendiri apabila pemahaman tersebut tidak terus ditanamkan.
“Dulu zaman saya ada pelajaran sejarah perjuangan bangsa. Sekarang kan tidak ada lagi, maka itu harus kita hidupkan kembali. Nanti anak-anak kita tidak tahu sejarah bangsanya sendiri,” katanya.
Ia pun mengajak generasi muda untuk memahami kembali sejarah Indonesia, termasuk perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan.
“Kaum muda, anak-anak milenial, jangan lupa kita bahas sejarah, sejarah bangsa kita. Supaya kita tahu perjuangan dan pengorbanan bangsa kita untuk memerdekakan bangsa ini,” jelasnya.
Ria Norsan juga mengingatkan bahwa perjuangan generasi saat ini berbeda dengan para pahlawan terdahulu.
Jika dahulu kemerdekaan diperjuangkan dengan senjata dan bambu runcing, kini masyarakat dapat mengisinya melalui kontribusi di berbagai bidang.
“Sekarang kita tidak berjuang dengan bambu runcing lagi, tidak berjuang dengan senjata lagi, tetapi mari kita berjuang dengan mengisi kemerdekaan di segala bidang sesuai dengan kondisi kita masing-masing,” ujarnya.
