Kumpulkan Bupati-Walikota, Ria Norsan Minta Daerah Antisipasi Batingsor
KILASKALBAR – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mulai menggeser fokus kesiapsiagaan bencana dari penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menuju potensi bencana hidrometeorologi seiring masuknya periode musim penghujan.
Gubernur Kalbar Ria Norsan mengatakan kondisi karhutla saat ini menunjukkan perkembangan positif. Titik panas di sejumlah wilayah Kalbar disebut telah mengalami penurunan yang signifikan yang disampaikannya saat memimpin rapat koordinasi bersama bupati dan wali kota di Kalbar, di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalbar, Selasa (6/10/2026).
Rapat digelar untuk membahas langkah antisipasi menghadapi perubahan kondisi cuaca dalam beberapa bulan ke depan.
“Pertama kita mengecek masalah karhutla dan alhamdulillah titik api kita sangat melandai,” ujarnya.
Meski demikian, Norsan menegaskan kondisi tersebut tidak membuat pemerintah mengendurkan kesiapsiagaan. Berdasarkan informasi BMKG yang diterima Pemprov Kalbar, kondisi panas masih perlu diwaspadai, sementara memasuki November hingga Desember 2026 wilayah Kalbar mulai menghadapi musim hujan.
“Namun walaupun sudah melandai, karena tadi di BMKG menyampaikan bahwa panas itu masih, El Nino itu masih. Kemudian disertai nanti persiapan November-Desember itu mulai musim hujan. Jadi kita juga mengantisipasi kejadian banjir dan tanah longsor serta angin kencang atau puting beliung,” ujarnya.
Dalam rapat tersebut, Pemprov Kalbar meminta pemerintah kabupaten dan kota mempersiapkan langkah sesuai karakteristik wilayah masing-masing. Norsan menyebut setiap daerah memiliki kondisi geografis berbeda sehingga potensi bencananya pun tidak sama.
Wilayah berbukit dan daerah pedalaman, misalnya, memiliki karakteristik yang berbeda dengan wilayah pesisir maupun kawasan yang relatif datar. Sejumlah wilayah seperti Sanggau, Bengkayang dan Sintang menjadi perhatian dalam pembahasan terkait potensi bencana di daerah berbukit dan pedalaman.
“Nah, tadi kita sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing, sudah mempersiapkan masing-masing. Jadi kita sudah rapat, sudah kita bahas tadi. Kabupaten-kotanya harus mempersiapkan apa yang akan terjadi ke depannya,” jelas Norsan.
Selain wilayah berbukit, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap daerah yang memiliki riwayat genangan atau banjir. Norsan menyebut Sintang dan Sambas sebagai daerah yang perlu mendapat perhatian dalam kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir.
Pemprov Kalbar juga membahas dukungan pengelolaan sungai bersama Balai Wilayah Sungai. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pengerukan sungai untuk membantu mengantisipasi potensi banjir.
“Tadi kita juga sudah minta bantu dengan balai sungai untuk pengerukan dan sebagainya, tapi tadi kan dia terbatas karena DAS aliran Sungai Kapuas saja, kalau yang tidak masuk itu berarti ke provinsi,” ungkapnya.
Norsan juga mempertanyakan upaya pengerukan di Sungai Kapuas yang disebut telah lebih dari 10 tahun tidak dilakukan. Hal tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi peningkatan curah hujan.
Dengan langkah tersebut, Pemprov Kalbar tidak hanya mempertahankan penanganan karhutla yang mulai menunjukkan tren penurunan, tetapi juga mulai menyiapkan pemerintah daerah menghadapi potensi bencana hidrometeorologi pada periode musim hujan.
