Ketika Pekarangan Tak Lagi Sekadar Halaman, Tapi Menjadi Lumbung Pangan Warga Pontianak Utara
Warga Pontianak Utara memanfaatkan Pekarangan Rumah Untuk Disulap Menjadi Ketahanan Pangan
KILASKALBAR – Di sebuah Jalan di Kawasan Dharma Putra II, Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara, suara burung puyuh bersahut-sahutan memecah suasana pagi. Di sudut lain, kolam-kolam kecil berisi lobster air tawar tampak berjajar rapi. Tak jauh dari sana, ember-ember budidaya maggot dan kolam ikan menjadi pemandangan yang kini semakin akrab.
Sulit membayangkan kawasan permukiman padat itu perlahan menjelma menjadi laboratorium ketahanan pangan berbasis masyarakat.
Semua bermula dari keresahan warga. Bukan semata soal kebutuhan ekonomi, melainkan kekhawatiran akan semakin jauhnya sumber pangan dari masyarakat kota serta semakin masifnya pembukaan lahan yang mengancam lingkungan.
Keresahan itulah yang melahirkan Kelompok Kreasi Sungai Putat (KSP), sebuah komunitas yang mengubah cara pandang warga terhadap pekarangan rumah.
“Bagi kami, semakin jauh sumber pangan dari masyarakat, maka semakin rentan ketahanan pangan kota,” ujar Ketua KSP, Syamhudi saat diwawancarai awak media pada Rabu (29/07/2026).
Berangkat dari pemikiran itu, KSP mulai mengajak warga memanfaatkan setiap jengkal pekarangan yang sebelumnya dibiarkan kosong. Tidak perlu lahan luas. Halaman sempit pun bisa menghasilkan telur puyuh, ikan konsumsi, lobster air tawar, hingga maggot sebagai pakan ternak.
Sedikitnya empat kebutuhan pangan keluarga diharapkan dapat dipenuhi dari pekarangan sendiri sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah berkurang.
“Kalau beras memang belum bisa. Tapi telur, ikan, lobster, dan sayur masih sangat memungkinkan diproduksi sendiri,” tambahnya.
Nama Kreasi Sungai Putat bukan dipilih tanpa alasan.
Menurut Syamhudi, Sungai Putat merupakan nama kampung lama yang perlahan mulai terlupakan setelah perubahan kawasan pada dekade 1970-an.
Melalui komunitas ini, warga ingin menghidupkan kembali identitas kampung sekaligus mengembalikan kepedulian terhadap lingkungan dengan menanam kembali pohon putat yang dahulu tumbuh di kawasan tersebut.
KSP kemudian melihat bahwa menjaga lingkungan juga dapat dilakukan dengan mengurangi tekanan terhadap pembukaan lahan baru.
“Kalau hasil dari pekarangan bisa menyamai bahkan lebih baik, untuk apa membuka kebun dengan risiko yang besar terhadap lingkungan?” ujarnya.
Karena itu, setiap pekarangan kini dipandang bukan hanya sebagai ruang kosong, tetapi sebagai aset produktif yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Yang menarik, sembilan anggota aktif KSP bukan berasal dari kalangan peternak.
Mereka terdiri atas tukang bangunan, pengemudi ojek daring, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), hingga guru agama.
Tidak ada yang memiliki latar belakang peternakan maupun pertanian. Seluruh keterampilan mereka dipelajari secara otodidak.
Syamhudi mengaku budidaya maggot yang kini berhasil dikembangkan merupakan hasil belajar mandiri selama hampir satu tahun.
Mereka memanfaatkan berbagai video pembelajaran di internet, melakukan uji coba, mencatat setiap keberhasilan maupun kegagalan, hingga akhirnya menyusun standar operasional sendiri.
“Kami belajar dari YouTube, merangkum, lalu membuat SOP sendiri sampai akhirnya berhasil,” tuturnya.
Kini hasil budidaya tersebut tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi mulai diarahkan menjadi usaha berbasis komunitas yang mampu meningkatkan pendapatan para anggotanya.
Gerakan masyarakat itu mendapat dukungan melalui program pemberdayaan dari PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Pontianak.
Integrated Terminal Manager Pontianak, Adi Wahyu Christianto, mengatakan pemanfaatan pekarangan merupakan salah satu cara menciptakan ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Ia berharap program tersebut terus berjalan secara berkelanjutan karena masih banyak ruang di pekarangan rumah yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi usaha produktif.
Mulai dari peternakan burung puyuh hingga budidaya maggot yang memiliki nilai ekonomi.
“Harapan kami masyarakat dapat memanfaatkan pekarangannya sebagai usaha sehingga kesejahteraan meningkat dan manfaatnya tidak hanya dirasakan pemilik usaha, tetapi juga lingkungan di sekitarnya,” katanya.
Adi menjelaskan Pertamina secara konsisten menjalankan pembinaan masyarakat di berbagai wilayah operasional, termasuk di Kota Pontianak.
Pendampingan dilakukan secara berkesinambungan agar masyarakat mampu mengembangkan usaha secara mandiri.
Baginya, keberhasilan kelompok binaan di wilayah ring satu diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat lain untuk ikut memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan dan penghasilan.
Gerakan tersebut juga mendapat apresiasi dari Pemerintah Kelurahan Siantan Hilir.
Lurah Siantan Hilir, Erin, menilai apa yang dilakukan KSP dapat menjadi contoh nyata bagi warga lain bahwa pekarangan rumah memiliki nilai ekonomi.
Menurutnya, pemerintah akan terus melakukan sosialisasi agar semakin banyak masyarakat terdorong menjadikan halaman rumah lebih produktif.
Selain edukasi, pemerintah juga membuka peluang memberikan dukungan berupa bibit maupun peralatan sesuai kemampuan program yang tersedia.
“Kami ingin masyarakat termotivasi memanfaatkan pekarangan rumah sehingga menjadi produktif dan mampu mendukung ketahanan pangan keluarga,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, warga Jalan Dharma Putra II membuktikan bahwa ketahanan pangan tidak selalu lahir dari sawah yang luas atau perkebunan yang membentang.
Ia bisa tumbuh dari halaman rumah, dari kandang puyuh sederhana, dari kolam kecil berisi lobster, hingga ember budidaya maggot yang dirawat dengan penuh kesabaran.
Gerakan yang dimulai oleh sembilan orang dengan latar belakang profesi berbeda itu kini menjadi contoh bagaimana kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha mampu melahirkan inovasi sosial yang berdampak nyata.
Di balik pagar-pagar rumah sederhana di Siantan Hilir, ketahanan pangan ternyata sedang dibangun , satu pekarangan, satu keluarga, dan satu harapan pada satu waktu.
