Gubernur Ria Norsan Tinjau Karhutla di Rasau Jaya, Perkuat Sinergi di Lapangan
Gubernur Kalbar, Ria Norsan Tinjau Karhutla di Sekunder C Kubu Raya
KILASKALBAR — Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan meninjau langsung lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Sekunder C, Desa Rasau Jaya 3, Kabupaten Kubu Raya, Rabu (2/9/2026).
Dalam peninjauan tersebut, Ria Norsan melihat langsung kondisi lahan gambut yang terbakar. Pemadaman di lokasi disebut telah berlangsung selama dua hari.
“Ini kita lihat di Sekunder C ini kebakaran gambut, tanah gambut. Cukup luas lahan gambut di sini,” ujar Ria Norsan.
Menurut Ria, lokasi yang terbakar merupakan lahan milik masyarakat. Berdasarkan keterangan petugas pemadam di lapangan, api diduga berasal dari kawasan Sekunder B dan kemudian merembet ke Sekunder C.
Ria mengatakan, kawasan Sekunder C relatif kosong dari aktivitas masyarakat dibandingkan kawasan Sekunder A dan B. Namun, di sepanjang kawasan tersebut masih terdapat sejumlah lahan masyarakat.
Secara keseluruhan, Ria mengungkapkan luas lahan yang terbakar di Kalimantan Barat telah mencapai sekitar 38.000 hektare.
“Kalau seluruh Kalimantan Barat yang terbakar, ada 38.000 hektare,” katanya.
Lahan yang terbakar tersebut, lanjutnya, meliputi kawasan hutan, lahan masyarakat, lahan pertanian, hutan produksi dan kawasan lainnya.
Plt Kepala BPBD Kalbar Ridwan mengatakan, dari total sekitar 38.000 hektare lahan yang terbakar, lebih dari separuhnya telah mendapatkan penanganan.
“Kalau dari 38.000 itu sudah lebih separuh dari yang sudah ditangani,” ujar Ridwan.
Selain luas lahan terbakar, Ria menyebut jumlah titik panas di Kalbar menunjukkan tren penurunan. Dari sebelumnya lebih dari 2.000 titik, data terakhir yang dihimpun menunjukkan sebanyak 157 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Meski demikian, kondisi tersebut dinilai masih dinamis. Ria mengatakan jumlah titik panas dapat meningkat secara cepat akibat perubahan arah angin maupun aktivitas pembakaran lahan.
Ia pun kembali mengingatkan masyarakat yang memiliki lahan pertanian maupun perkebunan agar tidak melakukan pembakaran lahan untuk sementara waktu.
“Tolonglah, jangan membakar pada saat ini. Gara-gara satu orang membakar, yang korban ribuan orang,” tegasnya.
Menurut Ria, dampak karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat melalui asap dan gangguan kesehatan, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas penerbangan karena kawasan karhutla berada tidak jauh dari bandara.
Ia meminta seluruh pihak tidak saling menyalahkan dan bersama-sama fokus menangani karhutla.
“Jadi sekarang jangan lagi saling menyalahkan. Kita sekarang sama-sama mengatasi masalah yang kita hadapi. Satu masalah, kebakaran hutan dan lahan,” pungkasnya.
