Harga Sayuran Melonjak, Warung Makan di Pontianak Kurangi Menu Sayur
Rumah Makan Etek
KILASKALBAR— Kenaikan harga sejumlah komoditas sayuran membuat sejumlah warung makan di Kota Pontianak mengurangi ketersediaan menu sayur. Kondisi tersebut disebut telah berlangsung sekitar satu bulan dan dipengaruhi oleh faktor cuaca.
Oji, pemilik Warung Mak Etek, mengatakan sejumlah sayuran yang biasanya tersedia kini sulit diperoleh di pasaran. Bahkan, beberapa komoditas mengalami kenaikan harga hingga beberapa kali lipat.
“Sekarang barang-barang lagi mahal. Dikarenakan hujan, tidak ada cuaca panas. Jadi bahan-bahan ini naik semua,” ujar Oji saat ditemui, Rabu (23/9/2026).
Menurutnya, kondisi yang terjadi bukan hanya persoalan harga. Beberapa jenis sayuran bahkan sulit ditemukan meski pedagang bersedia membelinya dengan harga lebih tinggi.
Ia mencontohkan kecambah yang biasanya dibeli dengan harga sekitar Rp12 ribu. Kini harganya mencapai lebih dari Rp20 ribu, sementara ketersediaannya juga terbatas.
“Kalau mahal ada barangnya masih enak. Kadang mahal pun barangnya tidak ada,” katanya.
Sejumlah sayuran seperti kangkung, sawi dan kacang panjang juga mengalami kenaikan. Harga kangkung yang dalam kondisi normal sekitar Rp5 ribu, kini disebut mendekati Rp20 ribu.
Kondisi serupa terjadi pada kacang panjang. Jika biasanya dibeli dengan harga sekitar Rp4 ribu hingga Rp5 ribu, saat ini harganya disebut telah mencapai sekitar Rp12 ribu.
Akibat kenaikan tersebut, Warung Mak Etek untuk sementara tidak menyediakan sejumlah menu sayuran. Oji mengatakan, pihaknya lebih banyak mengandalkan sayur daun ubi yang dinilai masih lebih mudah diperoleh.
“Kalau untuk jual ini nggak masuk sekarang. Jadi yang ada adalah sayur-sayur ubi. Kalau ubi ini kan tidak tergantung cuaca, kalau yang lain tergantung cuaca,” jelasnya.
Selain harga sayuran, kondisi sulitnya air bersih di Pontianak turut menambah biaya operasional warung. Oji mengatakan, pihaknya kini menggunakan air galon untuk mencuci beras dan memasak nasi karena air ledeng tidak dapat digunakan seperti biasanya.
“Sekarang untuk cuci beras, masak nasi, kita pakai air galon semua. Kalau biasa cuci pakai ledeng, sekarang sudah tidak bisa, air asin,” ujarnya.
Biaya air galon yang sebelumnya sekitar Rp6 ribu kini mencapai Rp12 ribu untuk layanan antar. Kenaikan biaya operasional tersebut akhirnya turut berdampak pada harga sejumlah menu di warung.
Oji mengakui kenaikan harga menu mendapat keluhan dari sebagian pelanggan. Namun, menurutnya, penyesuaian tersebut dilakukan karena meningkatnya biaya bahan dan kebutuhan operasional.
“Pasti ada yang ngeluh. Sedikit banyaknya ada. Cuma karena keadaan,” katanya.
Ia menambahkan, harga menu akan kembali dinormalisasi apabila kondisi harga bahan makanan dan biaya operasional kembali stabil.
“Kalau misalnya normal lagi, kemungkinan kita normalkan lagi. Cuma lihat situasi ke depannya dulu,” pungkas Oji.
