November 1, 2026

Ria Norsan Waspadai Karhutla Ganggu Ketahanan Pangan dan Picu Gagal Panen

IMG-20260905-WA0026

Pemerintah Provinsi Fokus Penanganan Karhutla

KILASKALBAR — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mulai mengantisipasi potensi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap ketahanan pangan daerah.

 

Gubernur Kalbar Ria Norsan mengatakan persoalan karhutla menjadi salah satu pembahasan utama dalam rapat bersama Forkopimda di Balai Petitih, Kantor Gubernur Kalbar, Selasa (8/9/2026).

 

Menurut Norsan, karhutla tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan dan kesehatan, tetapi juga berpotensi berdampak terhadap sektor pertanian dan ketersediaan pangan masyarakat.

 

“Dari kebakaran hutan mungkin akan mengakibatkan pangan kita ini ada, sampai kita mengantisipasi takut terjadinya gagal panen,” kata Norsan.

 

Karena itu, pemerintah memilih melakukan mitigasi sejak awal agar dampak yang lebih besar terhadap produksi pangan dapat dicegah.

 

“Kita mitigasi dari awal ini, kita sudah antisipasi bagaimana tindak pencegahannya,” ujarnya.

 

Selain ancaman karhutla, Norsan menyebut kondisi sumber air juga menjadi perhatian pemerintah. Sejumlah sungai mulai mengalami penyusutan debit bahkan mengering. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu distribusi pasokan kebutuhan masyarakat.

 

“Masalah air sungai kita yang sudah mengering, sehingga untuk pasokan distribusi ini akan terhambat nantinya. Ini juga sudah kita bahas tadi,” jelasnya.

 

Dalam rapat forkopimda tersebut menjadi momentum untuk memperbarui berbagai persoalan yang sedang berkembang di tengah masyarakat, mulai dari karhutla, ketahanan pangan, ketersediaan air hingga distribusi kebutuhan pokok.

 

Pemerintah, lanjutnya, akan melakukan langkah antisipasi agar persoalan-persoalan tersebut tidak berkembang menjadi krisis yang lebih besar.

 

Di sisi lain, Norsan mengatakan penanganan karhutla tetap menjadi prioritas karena titik api masih ditemukan di sejumlah wilayah Kalbar, terutama Ketapang dan Kubu Raya.

 

Hingga Selasa sore, jumlah titik api di Ketapang disebut turun menjadi 56 titik dari 73 titik pada pagi hari.

 

“Upaya-upaya tetap terus, berkolaborasi dengan TNI-Polri, Manggala Agni, mahasiswa, masyarakat umum dan organisasi kemasyarakatan,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *