November 1, 2026

Harga TBS Sawit Anjlok, Lingkar Borneo: Petani Jadi Korban Utama Kebijakan Ekspor Satu Pintu

IMG-20260604-WA0001

KILASKALBAR – Ketua Lingkar Borneo, Ahmad Syukri, menilai anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Kalimantan Barat dalam beberapa pekan terakhir tidak terlepas dari dampak kebijakan ekspor satu pintu komoditas sawit yang diberlakukan pemerintah pusat.

 

Menurut Syukri, meskipun pemerintah telah menetapkan harga TBS melalui mekanisme Dewan Penetapan Harga dan Surat Keputusan (SK) Gubernur, keputusan harga di lapangan masih sangat dipengaruhi oleh perusahaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit.

 

“Harga yang ditetapkan pemerintah sebenarnya sudah ada. Namun keputusan mutlak di lapangan masih berada di tangan perusahaan perkebunan sawit. Akibatnya, petani menjadi pihak yang paling merasakan dampak ketika terjadi perubahan kebijakan,” kata Syukri dalam wawancara dengan media.

 

Ia menyebutkan, setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Dantara Sumber Daya Indonesia (DSI), harga TBS di tingkat petani langsung mengalami penurunan signifikan.

 

“Dari sebelumnya sekitar Rp3.600 per kilogram, di sejumlah daerah turun hingga Rp2.600. Bahkan ada yang lebih rendah lagi di tingkat petani,” ujarnya.

 

Data yang dihimpun Lingkar Borneo menunjukkan harga TBS di beberapa wilayah sangat bervariasi. Di Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, harga sempat berada di kisaran Rp1.300 per kilogram. Sementara di Sambas berkisar Rp1.700 hingga Rp1.800 per kilogram.

 

Menurut Syukri, kondisi tersebut menunjukkan lemahnya intervensi pemerintah dalam mengawasi pelaksanaan harga TBS yang telah ditetapkan.

 

“Kalau standar harga pemerintah masih Rp3.600, tetapi petani menjual Rp1.300 sampai Rp1.800, berarti ada persoalan serius dalam pengawasan,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *