58 Jemaat Gereja Stella Maris Keracunan, Ini Kata Pengurus Gereja
Kepala Bidang Persekutuan Dewan Pastoral Paroki Gereja Stella Maris, Anton Suprayogi
KILASKALBAR – Sebanyak 58 jemaah Gereja Stella Maris diduga mengalami keracunan makanan setelah menghadiri acara ramah tamah usai perayaan Komuni Pertama pada Minggu (7/6/2026). Para korban mengalami gejala yang mengharuskan mereka mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Kepala Bidang Persekutuan Dewan Pastoral Paroki Gereja Stella Maris, Anton Suprayogi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan rangkaian perayaan Komuni Pertama yang diikuti oleh 104 anak. Setelah misa selesai sekitar pukul 10.00 WIB, para peserta bersama orang tua dan keluarga mengikuti acara ramah tamah di Gedung Kafe Ulin yang berada di samping gereja.
“Acara itu diselenggarakan oleh panitia yang dibentuk para orang tua peserta Komuni Pertama. Mereka kemudian memesan makanan kepada salah satu umat yang memang biasa memasak untuk kegiatan-kegiatan umat,” ujar Anton saat diwawancarai pada selasa (9/6/2026).
Menurut Anton, makanan yang disajikan berupa nasi kotak dengan menu ayam goreng, telur rebus yang diberi saus, sayuran, serta air mineral sebagai minuman. Acara makan bersama berlangsung sekitar pukul 12.00 WIB dan saat itu tidak ditemukan adanya keluhan dari peserta.
Namun, pada Senin (9/6/2026) pagi, sejumlah peserta mulai mengalami gangguan kesehatan. Awalnya terdapat 12 orang yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Pontura. Jumlah tersebut kemudian terus bertambah hingga mencapai 58 orang yang dilaporkan mengalami gejala serupa.
“Mendapat informasi adanya 12 orang yang dirawat, saya langsung berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten karena ada dugaan keracunan makanan. Saya meminta agar segera dilakukan investigasi,” kata Anton yang memiliki latar belakang di bidang kesehatan.
Menindaklanjuti laporan tersebut, tim dari Puskesmas setempat bersama Dinas Kesehatan langsung turun ke lapangan untuk melakukan penyelidikan epidemiologi dan mengambil sampel makanan yang diduga menjadi sumber keracunan.
Anton menjelaskan bahwa hasil laboratorium belum dapat diketahui dalam waktu singkat karena dugaan penyebab mengarah pada kontaminasi biologis, seperti bakteri. Menurutnya, pemeriksaan laboratorium membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk memastikan jenis kontaminasi yang terjadi.
“Karena jeda antara konsumsi makanan dan munculnya gejala lebih dari enam hingga delapan jam, dugaan awal mengarah pada faktor biologis. Namun, kepastian penyebabnya tetap menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan,” ujarnya.
Pihak gereja, lanjut Anton, telah melakukan pendataan terhadap seluruh korban dan berkomitmen membantu proses pengobatan. Selain itu, sejumlah korban yang berobat di luar rumah sakit juga turut didata untuk mendapatkan perhatian.
Dalam perkembangan terbaru, Pemerintah Kota turut memberikan dukungan kepada para korban. Anton menyebutkan bahwa Wali Kota yang hadir di lokasi menyampaikan komitmen untuk menggratiskan biaya perawatan bagi pasien yang dirawat di Rumah Sakit Pontura.
“Kami bersyukur karena pemerintah daerah memberikan perhatian dan bantuan kepada para korban. Saat ini fokus utama kami adalah memastikan seluruh pasien mendapatkan penanganan yang baik hingga pulih,” katanya.
Peristiwa ini menjadi evaluasi penting bagi penyelenggaraan kegiatan berskala besar yang melibatkan konsumsi makanan dalam jumlah banyak. Anton menilai ke depan perlu ada pengawasan yang lebih ketat terhadap proses pengolahan makanan, termasuk mempertimbangkan penggunaan lebih dari satu penyedia makanan untuk mengurangi risiko.
“Ke depan, kami akan lebih memperhatikan aspek higienitas dan kelayakan makanan. Untuk kegiatan besar, mungkin pemesanan makanan bisa dibagi ke beberapa penyedia dan memilih menu yang lebih aman agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Dinas Kesehatan masih melakukan investigasi dan menunggu hasil laboratorium untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan tersebut.
