November 1, 2026

Ria Norsan Tanam Pohon di Lahan Bekas Karhutla Saat GMD di Karimunting

E474BA29-A268-430E-81EB-B835F42A48B3

KILASKALBAR – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) Ria Norsan melakukan penanaman pohon di kawasan Pantai Kura-Kura, Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang, Sabtu (31/10/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Gema Membangun Desa (GMD) ke-V tersebut merupakan upaya revitalisasi lahan yang sebelumnya terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Selain penanaman pohon, pemerintah juga memberikan bantuan kepada kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) sebagai upaya memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pencegahan dan penanganan karhutla.
Ria Norsan mengatakan, penanaman pohon merupakan salah satu langkah mitigasi untuk memulihkan lahan bekas terbakar, baik di kawasan perkotaan maupun wilayah lainnya di Kalimantan Barat.
Menurutnya, jenis tanaman yang dikembangkan perlu disesuaikan dengan karakteristik tanah agar memiliki manfaat lingkungan sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Ini salah satu upaya dan langkah-langkah yang kita lakukan untuk mitigasi lahan-lahan yang sudah terbakar. Baik di Pontianak, Singkawang, maupun kawasan lainnya,” kata Ria Norsan.
Ia menjelaskan, untuk kawasan tanah mineral dapat ditanami tanaman buah-buahan. Sementara di kawasan gambut, masyarakat dapat mengembangkan tanaman yang sesuai dengan kondisi lahannya, seperti jagung, buah naga, lidah buaya hingga nanas.
Norsan berharap, lahan yang telah direvitalisasi dapat dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan produktif sehingga kawasan tersebut tetap terjaga dan risiko kebakaran dapat ditekan.
“Supaya nanti kalau sudah dikebuni, masyarakat ikut menjaga. Ke depan tidak akan terbakar lagi,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalbar, Ganda Yulianto Butar Butar mengatakan, revitalisasi lahan pascakarhutla membutuhkan keterlibatan bersama antara masyarakat, pemerintah daerah, hingga pihak swasta.
Menurutnya, pemulihan lahan gambut tidak cukup hanya melalui penanaman pohon. Ada tiga aspek penting yang perlu berjalan beriringan, yakni pemulihan lahan, menjaga kondisi air atau pembasahan gambut, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ganda menjelaskan, penanaman berfungsi menjaga permukaan lahan agar tidak langsung terpapar panas, sedangkan pembasahan bertujuan mempertahankan kelembapan gambut sehingga tidak mudah terbakar.
“Pembasahan itu di bawah, penanaman menjaga di atasnya. Jadi, penanaman membantu mempersempit ruang gerak pemanasan secara langsung, sementara yang lebih penting untuk menjaga gambut di dalamnya adalah pembasahan,” jelasnya.
Ia menambahkan, upaya pembasahan juga harus dilakukan berdasarkan pemetaan dan kajian. Pemerintah perlu mengetahui riwayat titik kebakaran sebelum menentukan lokasi pembangunan sekat kanal maupun sumur bor.
Hal tersebut diperlukan agar infrastruktur pembasahan yang dibangun benar-benar sesuai dengan kondisi hidrologis dan kebutuhan kawasan gambut.
Di sisi lain, Ganda menekankan pentingnya memastikan tanaman yang dikembangkan dapat menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dengan demikian, masyarakat memiliki kepentingan langsung untuk menjaga kawasan yang telah direvitalisasi.
Menurutnya, tanaman seperti nanas menjadi salah satu komoditas yang dapat dikembangkan di lahan gambut karena berpotensi memberikan hasil ekonomi.
Bantuan Pompa untuk Masyarakat Peduli Api
Dalam kegiatan tersebut, bantuan juga diserahkan kepada Masyarakat Peduli Api (MPA) berupa pompa jinjing. Peralatan ini dinilai memudahkan mobilisasi masyarakat ketika melakukan penanganan kebakaran di lapangan.
Ganda mengatakan, MPA memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam pencegahan dan penanganan karhutla di tingkat desa.
Selain mendapatkan bantuan peralatan, anggota MPA juga akan mendapatkan pembinaan dan pelatihan teknis dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), termasuk pengetahuan mengenai teknik pemadaman api.
Namun, menurutnya, peran MPA tidak hanya sebatas memadamkan kebakaran. Mereka juga diharapkan mampu membangun kesadaran masyarakat di lingkungan masing-masing mengenai pentingnya menjaga kawasan hutan dan lahan.
“Intinya bagaimana mereka mempunyai kesadaran lokal di tingkat tapak dalam masyarakat, tentang pentingnya menjaga lingkungan dari kebakaran hutan dan lahan,” katanya.
Ganda juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada menghadapi kondisi cuaca kering berkepanjangan. Terlebih, kawasan gambut memiliki kerentanan tinggi terhadap kebakaran apabila mengalami kekeringan.
Karena itu, ia mendorong penguatan sosialisasi dan edukasi hingga tingkat desa, termasuk mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar ketika kondisi cuaca sangat kering.
Ia menegaskan, pencegahan karhutla membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah provinsi, kabupaten, pemerintah desa, masyarakat, hingga pemegang izin usaha.
Melalui penanaman pohon, pembasahan gambut, serta penguatan Masyarakat Peduli Api, pemerintah berharap pemulihan lahan bekas terbakar tidak hanya mengembalikan fungsi lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan terdampak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *