November 1, 2026

Inflasi Juni 2026 Tercatat 3,28 Persen, Neraca Perdagangan Masih Surplus Rp1,09 Triliun

IMG-20260701-WA0009

Kepala Badan Pusat Statistik Kalbar, Saichudin

KILASKALBAR – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat, Muh Saichudin, memaparkan perkembangan sejumlah indikator strategis ekonomi Kalimantan Barat dalam konferensi pers statistik yang digelar di Kantor BPS Kalbar, Rabu (1/7/2026). Indikator yang dirilis meliputi inflasi, Nilai Tukar Petani (NTP), ekspor dan impor, pariwisata, hingga transportasi.

 

Muh Saichudin mengatakan inflasi tahunan (year on year) Kalimantan Barat pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,28 persen. Dari seluruh daerah yang menjadi cakupan penghitungan, Kabupaten Sintang mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,71 persen.

 

“Inflasi year-on-year Provinsi Kalimantan Barat pada Juni 2026 sebesar 3,28 persen, sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sintang sebesar 3,71 persen,” ujarnya.

 

Di sektor pertanian, BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Barat pada Juni 2026 sebesar 176,87 poin, turun 0,85 persen dibandingkan Mei 2026. Sementara Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) tercatat 181,28 poin, atau turun 1,43 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

 

Menurut Muh Saichudin, indikator tersebut menjadi salah satu acuan untuk melihat kemampuan tukar hasil pertanian terhadap barang konsumsi rumah tangga maupun biaya produksi yang harus dikeluarkan petani.

 

Pada sektor perdagangan luar negeri, nilai ekspor Kalimantan Barat pada Mei 2026 tercatat sebesar US$160,68 juta atau sekitar Rp2,88 triliun dengan asumsi kurs sekitar Rp17.927 per dolar AS. Nilai tersebut turun 19,16 persen dibandingkan April 2026.

 

Sementara itu, nilai impor mencapai US$99,52 juta atau sekitar Rp1,78 triliun, meningkat 19,10 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, Kalimantan Barat masih mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$61,16 juta, setara sekitar Rp1,09 triliun. Namun, nilai surplus tersebut turun 46,91 persen dibandingkan April 2026.

 

Pada sektor pariwisata, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Kalimantan Barat selama Mei 2026 mencapai 56,26 persen. Angka ini meningkat 5,83 poin persentase dibandingkan Mei 2025 (year-on-year), tetapi turun 2,50 poin persentase dibandingkan April 2026 (month-to-month).

 

Sementara itu, sektor transportasi menunjukkan perlambatan mobilitas penumpang. Jumlah penumpang angkutan udara domestik yang datang ke Kalimantan Barat pada Mei 2026 tercatat 100.778 orang, turun 22,75 persen dibandingkan April 2026.

 

Penurunan yang lebih dalam terjadi pada angkutan laut domestik. Jumlah penumpang yang datang melalui pelabuhan di Kalimantan Barat hanya 8.252 orang, atau merosot 66,95 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

 

Muh Saichudin menjelaskan, berbagai indikator yang dirilis BPS setiap bulan menjadi gambaran kondisi ekonomi Kalimantan Barat dan dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan pembangunan maupun pengambilan kebijakan.

 

“Data statistik yang kami sajikan diharapkan menjadi rujukan bagi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat dalam melihat perkembangan ekonomi Kalimantan Barat secara objektif dan berbasis data,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *