November 1, 2026

Hadapi Pelecehan Hingga Dikejar Hewan Piaraan, Ini Cerita Petugas Sensus Ekonomi Dara Elvinda

IMG-20260624-WA0003

Petugas Sensus Ekonomi Kubu Raya, Dara Elvina

KILASKALBAR – Menjadi petugas sensus ekonomi ternyata tidak semudah mendatangi rumah warga dan mengajukan sejumlah pertanyaan. Beragam tantangan harus dihadapi di lapangan, mulai dari warga yang enggan membuka pintu, harus menyesuaikan waktu dengan responden, hingga menghadapi risiko pelecehan dan ancaman hewan peliharaan.

 

Hal itu diungkapkan Dara Elvinda, petugas sensus ekonomi yang telah hampir dua pekan melakukan pendataan di wilayah Kabupaten Kubu Raya.

 

Menurut Dara, pengalaman unik sekaligus menegangkan kerap ditemuinya saat mendatangi rumah responden. Salah satunya ketika harus berhadapan dengan anjing peliharaan yang dilepas bebas di halaman rumah.

 

“Kalau ada rumah yang anjingnya tidak diikat itu agak susah sebenarnya kalau mau datang ke rumahnya. Untungnya kadang pemilik rumah baik, jadi anjingnya dimasukkan dulu,” ujarnya.

 

Selain menghadapi hewan peliharaan, Dara juga mengaku masih menemukan warga yang enggan menerima kedatangan petugas sensus. Bahkan ada yang memilih tidak membuka pintu saat didatangi.

 

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya sikap skeptis masyarakat terhadap berbagai program pemerintah.

 

“Sekarang orang lebih skeptis. Ada juga yang tidak setuju atau tidak mau didata. Jadi petugas harus bisa menjelaskan tujuan pendataan dengan benar,” katanya.

 

Dara mengatakan sebagian besar penolakan yang ditemui berasal dari kekhawatiran masyarakat bahwa data yang diberikan akan digunakan untuk kepentingan perpajakan.

 

“Banyak yang takut karena mengira sensus ini berhubungan dengan pajak. Menurut pengakuan mereka, beberapa kali setelah sensus pajaknya naik,” ujarnya.

 

Padahal, lanjut Dara, kegiatan sensus ekonomi tidak memiliki kaitan dengan penetapan maupun kenaikan pajak masyarakat.

 

“Sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali. Bahkan di aplikasi kami juga ada keterangan bahwa pendataan ini tidak terkait pajak. Ada dasar hukumnya juga, sehingga kerahasiaan responden terjamin,” jelasnya.

 

Ia menilai derasnya informasi yang beredar di media sosial membuat sebagian masyarakat mudah percaya pada informasi yang belum tentu benar.

 

“Orang-orang sekarang banyak takut karena informasi yang viral di internet. Jadi biasanya saya lebih menjelaskan tujuan sensus itu apa,” katanya.

 

Di balik tugas pendataan yang tampak sederhana, Dara mengungkapkan adanya risiko yang lebih serius di lapangan. Ia menceritakan salah seorang rekannya pernah mengalami peristiwa yang mengarah pada pelecehan seksual saat melakukan pendataan.

 

Menurut Dara, kejadian tersebut terjadi ketika petugas mendatangi rumah seorang responden. Saat itu, responden diduga menunjukkan perilaku tidak senonoh kepada petugas perempuan yang datang melakukan wawancara.

 

Beruntung, petugas tersebut tidak bekerja sendirian sehingga situasi dapat segera diantisipasi.

 

“Untung mereka datang berdua, jadi masih bisa ditangani,” ujarnya.

 

Sejak kejadian itu, petugas menjadi lebih berhati-hati saat melakukan kunjungan ke rumah responden. Dalam kondisi tertentu, wawancara dilakukan dari depan pagar untuk menjaga keamanan petugas.

Tantangan lainnya adalah menyesuaikan waktu dengan aktivitas masyarakat. Banyak responden yang bekerja di Kota Pontianak sehingga sulit ditemui pada siang hari.

 

“Kami kadang harus datang malam atau pagi-pagi sekali sebelum mereka berangkat kerja,” kata Dara.

 

Dalam sehari, petugas sensus dapat mendata sekitar tujuh hingga sepuluh responden. Jumlah tersebut bergantung pada kondisi lapangan dan jenis usaha yang dimiliki responden.

 

“Kalau dari pagi sampai sore non-stop bisa 10 responden atau lebih. Tapi kalau ada jeda dan turun lagi sore, biasanya sekitar tujuh sampai delapan,” jelasnya.

 

Menurut Dara, pendataan terhadap pelaku usaha biasanya membutuhkan waktu lebih lama karena jumlah pertanyaan yang harus dijawab lebih banyak dibanding responden biasa.

 

 

Meski menghadapi berbagai tantangan selama bertugas, Dara mengaku berusaha tetap menikmati pekerjaannya. Ia memilih menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan waktu pribadi agar kondisi fisik maupun mental tetap prima.

 

“Kalau saya selesai turun lapangan ya pulang, main atau nongkrong. Enjoy saja,” tuturnya.

 

Bagi Dara, tantangan di lapangan merupakan bagian dari tugas yang harus dijalani. Namun ia berharap masyarakat dapat lebih terbuka terhadap petugas sensus karena data yang dikumpulkan sangat penting untuk menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat secara akurat dan menjadi dasar penyusunan kebijakan pembangunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *