November 1, 2026

Lebih dari Satu Juta Jiwa di Kalbar Bergantung pada Sawit

IMG-20260604-WA0002

KILASKALBAR – Turunnya harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit dinilai tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga mengancam keberlangsungan ekonomi ratusan ribu keluarga di Kalimantan Barat.

 

Ketua Lingkar Borneo Ahmad Syukri mengungkapkan bahwa berdasarkan data perkebunan tahun 2025, terdapat sekitar 279.255 kepala keluarga petani sawit mandiri di Kalimantan Barat dengan luas lahan mencapai 666.744 hektare.

 

“Jika satu keluarga terdiri dari empat orang, berarti ada sekitar 1,1 juta jiwa yang hidup bergantung pada sektor sawit. Itu belum termasuk buruh kebun dan pekerja sektor turunannya,” jelasnya.

 

Selain petani mandiri, petani plasma dan buruh perkebunan juga ikut terdampak. Menurut Syukri, perusahaan sering menggunakan penurunan harga TBS sebagai alasan untuk menekan pembagian hasil plasma maupun mempertahankan sistem upah murah.

 

Ia menambahkan, konsumen juga ikut dirugikan karena harga produk turunan sawit seperti minyak goreng, sabun, dan kosmetik tidak ikut turun meskipun harga TBS mengalami penurunan drastis.

 

“Harga sawit petani turun, tetapi harga minyak goreng tidak turun. Ini menunjukkan ketimpangan distribusi keuntungan dalam rantai pasok industri sawit,” katanya.

 

Di sisi lain, Syukri menekankan pentingnya aspek keberlanjutan industri sawit, baik dari sisi ekonomi, sosial maupun lingkungan. Ia menilai perusahaan tidak boleh hanya mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi harus memperhatikan masyarakat sekitar, kawasan sungai, sumber mata air, dan hak-hak masyarakat lokal.

 

“Kalau perusahaan ingin bertahan puluhan tahun, mereka harus memikirkan keberlanjutan. Tidak cukup hanya mengejar keuntungan hari ini, tetapi juga menjaga lingkungan dan hubungan dengan masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *