Perlu Peran Keluarga Dalam Penagawasan Anak Agar Tidak Berhadapan Dengan Hukum
Kenakalan remaja ( pixabay )
KILASKALBAR – Fenomena kasus penganiayaan yang melibatkan kalangan remaja yang terjadi beberapa waktu lalu menjadi sorotan di tengah masyarakat.
Berbagai pihak menilai permasalahan kenakalan remaja tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja, melainkan harus melibatkan keluarga, masyarakat, hingga pemerintah.
Menanggapi hal tersebut, Kapolresta Pontianak, Kombes Pol Endang Tri Purwanto mengatakan pihaknya telah melakukan berbagai langkah mulai dari preemtif, preventif hingga represif dalam menangani persoalan remaja yang berhadapan dengan hukum.
“Kami hadir, berdiskusi bersama stakeholder terkait dan juga ulama untuk mencari solusi bersama. Anak-anak yang bermasalah ini permasalahannya berjenjang, mulai dari keluarga hingga negara. Kalau di kepolisian, kami melaksanakan penegakan hukum, tetapi kami juga melakukan langkah preemtif dan preventif,” ujarnya saat diwawancarai awak media di salah satu coffeshop di Jalan Karya Sosial, Kecamatan Pontianak Kota, pada Senin, (30/03/2026).
Ia menjelaskan, langkah preemtif dan preventif yang dilakukan kepolisian di antaranya dengan menggelar razia, patroli, serta melakukan upaya perdamaian dan pembinaan.
Selain itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) serta dinas terkait dan menggandeng ulama untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Represifnya tentu penegakan hukum. Tapi pencegahan tetap kami kedepankan dengan patroli, razia, dan koordinasi dengan berbagai pihak,” jelasnya.
Sementara ditempat yang sama Tokoh Agama, Ustad Abi Een menilai permasalahan kenakalan remaja bukan hanya menjadi tugas kepolisian, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Permasalahan ini bukan hanya tugas polisi, tapi tugas kita semua yang peduli dengan generasi yang aman. Banyak kasus anak bermasalah memiliki kesamaan, yaitu fatherless atau kurangnya peran ayah dalam keluarga,” katanya.
Ia menyebut berdasarkan data, Indonesia termasuk negara dengan jumlah anak yang tidak mendapatkan keteladanan ayah cukup tinggi, sehingga peran ayah dalam keluarga sangat penting dalam membentuk karakter anak.
Menurutnya, penyelesaian masalah anak harus dimulai dari keluarga, terutama peran ayah, kemudian lingkungan, pendidikan, dan terakhir negara.
“Untuk mencegah anak bermasalah, perlu edukasi tentang ilmu berumah tangga dan pola pengasuhan anak. Karena menjadi ayah bukan hanya soal nafkah, tapi juga mendidik, mendampingi, dan menjadi tempat anak bercerita,” pungkasnya.(dk)
