180 Titik Panas Terpantau di Kalbar, BPBD Kalbar Rawan Karhutla
Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalbar (Foto:Dika Febriawan)
KILASKALBAR – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat seiring meningkatnya jumlah titik panas dalam beberapa hari terakhir.
Koordinator Harian Pusdalops Penanggulangan Bencana BPBD Provinsi Kalimantan Barat, Daniel, mengatakan berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terpantau sebanyak 180 titik panas di Kalimantan Barat pada periode 18-19 Januari 2026.
“Perlu kami tegaskan, ini adalah titik panas, bukan titik api. Panas belum tentu api,” kata Daniel saat diwawancarai di Kantor BPBD Kalbar, Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Pontianak Tenggara, pada Senin, 19 Januari 2026.
Dari total tersebut, lanjutnya, terdapat lima titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi yang dicurigai sebagai titik api.
Rinciannya, satu titik di Kabupaten Sintang, dua titik di Kabupaten Kapuas Hulu, dan dua titik di Kabupaten Sekadau.
Meski demikian, Daniel menegaskan potensi karhutla juga dapat terjadi di wilayah lain di luar data tersebut.
Ia mencontohkan beberapa kejadian kebakaran yang dilaporkan terjadi di Kabupaten Kubu Raya.
“Sejak 18 Januari, kami sudah melakukan langkah antisipasi melalui patroli terpadu oleh BPBD Kubu Raya dan Kota Pontianak yang diback up BPBD Provinsi Kalimantan Barat,” ujarnya.
Patroli tersebut dilakukan dengan tiga langkah utama, yakni pengawasan wilayah rawan karhutla, operasi pembasahan lahan kering, serta pemadaman apabila ditemukan titik api.
Selain itu, BPBD Provinsi Kalimantan Barat juga mendorong seluruh pemerintah kabupaten dan kota untuk segera menetapkan status siaga karhutla agar penanganan dapat dilakukan secara lebih masif, terarah, dan melibatkan berbagai pihak.
Daniel menyebutkan, berdasarkan perkiraan BMKG, potensi karhutla di Kalimantan Barat diprediksi meningkat pada periode 19 hingga 22 Januari 2026, dan berlanjut hingga sekitar 25 Januari 2026.
Terkait dampak terhadap masyarakat, Daniel mengatakan hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai gangguan yang ditimbulkan akibat karhutla.
Namun, bau asap mulai tercium pada malam hari di beberapa wilayah.
“Kami berupaya agar karhutla ini bisa dicegah sebelum berdampak pada masyarakat, termasuk gangguan jarak pandang yang dapat memengaruhi penerbangan dan aktivitas pelabuhan,” katanya.
Sebagai langkah kesiapsiagaan, BPBD Provinsi Kalimantan Barat juga akan mendirikan posko lapangan di Jalan Madusari, Kubu Raya, yang dilengkapi personel dan peralatan untuk merespons cepat apabila terjadi kebakaran.
Daniel mengakui petugas di lapangan menghadapi sejumlah kendala, seperti faktor alam berupa angin kencang yang mempercepat penyebaran api, serta keterbatasan sumber daya manusia dan peralatan.
“Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan partisipasi relawan dan dunia usaha untuk bersama-sama mengantisipasi karhutla agar tidak terjadi secara masif,” ujarnya.
BPBD Kalbar juga menegaskan bahwa penetapan status siaga di tingkat provinsi akan dilakukan setelah minimal dua hingga tiga kabupaten/kota menetapkan status siaga karhutla terlebih dahulu.
Jika kondisi memburuk, upaya lanjutan seperti water bombing dapat dilakukan sebagai langkah antisipasi lanjutan.(dk)
