Mahasiswa dan Pemuka Agama Berkomitmen Wujudkan Pemilu Damai di Kalbar

oleh -1.497 views
Dialog mencegah potensi konflik menjelang Pemilu 2019 yang diselenggarakan PKC PMII Kalbar, Rabu (29/8/2018).

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kalbar, menggelar dialog lintas etnis dengan mengusung tema peranan mahasiswa mencegah konflik sosial menjelang Pemilu 2019.

Dialog di Aula Magister Ilmu Sosial Untan Pontianak, menghadirkan empat narasumber, yakni Mohamad, anggota Bawaslu Kalbar, Khairuddin Zacky, perwakilan dari PW GP Ansor Kalbar, Pandita Rolink Kurniadi Darmara, dan Pendeta Irwan Luwuk.

Anggota Bawaslu Kalbar, Mohammad mengatakan, kontestasi politik adalah pertarungan antara mereka yang punya kepentingan dalam proses politik.

“Tentu ada saluran terkait dengan kontestasi itu melalui pemilu. Pemilu itu diatur. Ada pencegahan, ada penindakan, dan itu ada putusan. Dan itu salah satu cara untuk meminimalisir terjadinya konflik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dengan penegakan hukum maka saluran dari mereka yang punya kepentingan dalam politik, itu terwadahi.

“Tinggal kedewasaan dari pemilih, kecerdasan dari pemilih, dan juga kepatuhan dari peserta pemilu. Baik itu pilpres maupun legislatif,” katanya.

Ucap Mohammad, semua pihak punya andil dalam melakukan kontrol pengawasan.

“Maka jika ada pelanggaran, itu harus disampaikan, diinformasikan, dilaporkan ke badan yang punya legalitas, badan yang punya kewenangan, yaitu Bawaslu,” tuturnya.

Mohammad menyambut baik kegiatan yang diinisiasi PMII Kalbar. Menurutnya, kegiatan yang melibatkan pemuda dan mahasiswa serta masyarakat lintas etnis dan agama ini sebagai bentuk upaya pencegahan konflik dalam pemilu.

Pendeta Irwan Luwuk mengatakan, untuk mencegah potensi konflik dalam pemilu, maka harus diketahui pihak yang akan berkonflik. Hal ini juga sebagai bentuk untuk mencari solusi konflik itu sendiri.

“Sebagai mahasiswa kaum milenial, kita harus cerdas, bijak, smart dan wise untuk membedakan, untuk bisa menilai hal-hal yang bisa membuat munculnya konflik di tengah-tengah masyarakat. Baik lewat medsos, dunia nyata ataupun ceramah-ceramah agama yang justru memprovokasi. Nah kita harus cerdas dan bijak dalam menyikapi itu,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, potensi konflik dalam pemilu juga sangat dimungkinkan terjadi di ranah kehidupan beragama.

“Seperti tagar ganti presiden atau tetap Jokowi, tetapi kasingnya itu keagamaan atau mungkin aktivitas sosial lainnya,” kata dia.

Semua pihak harus bersama-sama berkomitmen mencegah gerakan-gerakan yang berpotensi terjadinya konflik terutama di tahun politik.

“Baik aparat, masyarakat yang memang cinta keutuhan NKRI, kita harus cepat mengambil sikap untuk mencegah sejak dini. Jangan sudah berkembang kita biarkan, terlambat hancur negara kita,” ucapnya.

Selaku pemuka agama, Irwan menegaskan bahwa tidak ada agama yang mengajarkan hal yang tidak baik.

“Semua agama saya percaya apa yang diajarkan itu hal-hal yang baik, hal-hal yang memang penuh dengan cinta kasih. Jadi kalau ada pemuka-pemuka agama yang justru sebaliknya mengajarkan hal yang bersifat kebencian, permusuhan karena perbedaan, saya kira itu bukan pemuka agama itu. Karena kata agama itu artinya tidak kacau,” terangnya.

Ia mengimbau, dalam politik, masyarakat boleh berbeda. Tetapi karena perbedaan itu, jangan sampai sesama saudara sebangsa saling bertikai.

Hal senada disampaikan Pandita Rolink Kurniadi Darmara. Menurutnya, jangan sampai karena politik, kedamaian yang sudah dibangun menjadi rusak.

“Jangan sampai kepentingan politik lima tahun ini masyarakat menjadi tercerai-berai, jadi tidak rukun. Saya kira ini hal yang sangat disayangkan,” ujarnya.

Ia menilai, pemilu merupakan proses pemilihan pemimpin yang bisa memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Jadi proses ini harus kita lalui, kita laksanakan sebaik-baiknya karena ini menentukan perjalanan nasib bangsa ke depan,” katanya.

Ia juga berharap, dalam konstelasi politik lima tahunan, para tokoh agama tidak membiarkan pihak manapun memanfaatkan rumah ibadah sebagai tempat ajang kampanye politik praktis.

“Karena itu sangat merugikan. Merugikan umatnya, merugikan rumah ibadahnya yang merupakan tempat mulia,” katanya.

Ketua PKC PMII Kalbar, Muammar Kadafi mengatakan, kegiatan dialog sebagai bentuk komitmen mahasiswa dalam mewujudkan pemilu bermartabat. Damai dan aman tidak ada gesekan di masyarakat.

“Kami mengajak kepada semua elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keutuhan, kedamaian, serta keamanan Kalbar dan tidak terprovokasi terhadap gerakan-gerakan atau berita yang sifatnya memecah belah. Mari rawat keberagaman dan kemajemukan bangsa dan negara ini,” tuturnya. (qrf)