Sutarmidji Pastikan Calon Tidak Akan Terpilih Kalau Kampanye Menyerang “Lawan”: Percaya Omongan Saya

oleh -1.628 views
Gubenur Sutarmidji menandatangani deklarasi kampanye damai Pemilu 2019.

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – KPU Kalbar menggelar deklarasi kampanye damai Pemilu 2019 di Jalan Rahadi Usman, Pontianak, Minggu (23/9/2018) pagi. Acara ini dihadiri Gubernur Kalbar, Forkopimda, peserta pemilu baik pengurus parpol maupun para calon anggota DPD RI dapil Kalbar.

Gubernur Kalbar Sutarmidji berharap selama masa kampanye, kampanye bisa berlangsung dengan aman dan damai serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Saya berharap, kita berharap selama kampanye berlangsung secara damai. Masing-masing calon harus bisa mengendalikan timnya, maupun segala komponen dalam rangka pemenangan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Sutarmidji berbagi pengalaman soal kampanye yang pernah ia lakukan.

Baca juga: Deklarasi Kampanye Damai Pemilu 2019, KPU Ingatkan Peserta Ikut Aturan

Menurutnya, salah satu kampanye yang paling efektif adalah melalui media sosial (medsos). Namun, untuk menghindari hal-hal negatif, hendaknya calon tidak memiliki banyak akun medsos.

“Pengalaman saya ketika saya sudah beberapa kali ikut kampanye, yang pertama saya hindari, saya tidak membuka media sosial terlalu banyak. Karena semakin kita membuka (banyak medsos), sebagai peserta pemilihan umum atau pilkada, semakin kita membuka maka kita akan, kalau tidak bisa mengendalikan emosi, akan ikut dalam itu,” ucapnya.

“Coba silakan kalau mau diteliti. Sebagian besar yang diposting, pasti hal-hal yang menimbulkan reaksi negatif. Sebagian besar,” terang dia.

Di samping itu, Sutarmidji juga menyarankan ke setiap peserta pemilu, apabila di akun medsosnya nanti ada yang berkomentar miring, maka jangan sampai digubris.

“Nah, makanya saya bilang waktu (pilgub) itu di akun saya, apapun yang dikatakan orang tentang saya, senyumin aja. Jangan dilawan, jangan diladen, jangan dibalas. Nah, akhirnya kampanye itu kegiatan kita selalu berjalan dengan lancar,” katanya.

Sutarmidji menilai, daripada berkampanye dengan menjatuhkan calon lain, lebih baik kampanye mengajak masyarakat menggunakan hak pilihnya dengan secara cerdas. “Itu yang paling penting,” ucapnya.

Tidak cuma berkomitmen dalam mewujudkan pemilu damai, calon juga harus bisa mengajak masyarakat, simpatisan bahkan pendukungnya untuk menjadi pemilih atau pendukung yang cerdas.

Kata Sutarmidji, apabila ada simpatisan atau pendukung yang niatnya untuk memenangkan calon tapi dengan cara menjelek-jelekkan lawan, maka calon harus bisa mencegah perbuatan itu.

“Harusnya peserta kalau misalnya di Facebook itu ada akun yang menjelek-jelekkan (calon) lain (untuk) mendukung dia (calon tertentu), dia langsung tegur itu. Saya biasanya langsung saya tegur. Kalau masuk di situ kemudian dia menjelek-jelekkan lawan, saya langsunh tegur. Tidak boleh seperti itu,” terangnya.

“Tapi kalau kita yang nyuruh, nah itu lebih parah lagi,” timpalnya.

Sutarmidji memastikan, seorang calon itu tidak akan terpilih jika dalam membentuk tim kampanye tujuannya untuk menyerang lawan politik.

“Tidak bakalan bapak/ibu berhasil ketika membuat tim kampanye caranya adalah isinya untuk menyerang lawan, tak bakalan. Percaya omongan saya. Tidak akan terpilih, tak akan sukses. Coba saja kalau tidak percaya,” ucapnya.

Sutarmidji mengungkapkan, kampanye yang baik adalah mengajak kepada hal-hal yang positif.

“Masyarakat sekarang menghendaki bagaimana ada perbaikan-perbaikan dari kondisi-kondisi yang ada. Nah, cerdaslah kita melihat isu, membaca isu, dan menyampaikan isu yang dalam artian untuk suatu perubahan ke arah yang positif. Kalau itu yang bisa kita lakukan, calon itu pasti terpilih,” tuturnya. (qrf)