Pemilu Bermartabat, Sukiryanto Ajak Milenial Pasang Badan Lawan Hoaks

oleh -1.650 views
Sukiryanto saat menerima cendera mata usai dialog publik.

PONTIANAK, KILASKALBAR.com– Ketua Ikatan Keluarga Besar Madura (IKBM) Kalbar, Sukiryanto menjadi narasumber dalam dialog publik yang digelar Dewan Pengurus Pusat Rumah Milenial bersama  mahasiswa dari berbagai kampus dan organisasi kemahasiswaan, di Whats Up Kafe, Sabtu (23/3).

Dialog publik yang digelar Rumah Milenial di Whats Up Kafe, Sabtu (23/3).

Dialog publik ini bertemakan peran mahasiswa dalam Pemilu 2019 yang bermartabat, damai dan bebas hoaks.
Sukiryanto menguraikan ketiga hal ini menjadi tanggung jawab para milenial sebagai generasi zaman now untuk mewujudkannya.

Pemilu yang bermartabat kata Sukiryanto, adalah berdemokrasi dengan cara-cara yang santun. Tidak menebar aksi provokasi.

“Sekarang ini banyak berpolitik tak bermartabat. Contohnya merusak alat peraga kampanye (APK) calon yang bukan dukungannya. Dicoret, dirusak dan dirobek. Itu sudah tidak bermartabat,” katanya.

Seharusnya kata dia, semua pihak menghormati pilihan masing-masing. Tidak memprovokasi dengan tindakan-tindakan yang bakal bermuara pada aksi kejahatan seperti perusakan tersebut. Ini yang justru membuat kacau demokrasi.

“Dari data yang ada, 60 persen baliho-baliho dirusak. Sangat disayangkan. Itu menunjukkan rendahnya tingkat kesadaran demokrasi yang tak bermartabat,” katanya.

Sementara terkait penyebaran hoaks. Sukiryanto mengaku miris. Mendekati hari pemilihan, banyak bertebaran hoaks atau berita bohong yang menjatuhkan lawan politik. Diperparah hal ini disebarkan secara massif oleh para pendukung.

“Milenial bisa menjadi pencerah. Memberikan klarifikasi terhadap berita bohong yang menyebar di masyarakat. Kita mesti pasang badan melawan hoaks,” ujarnya.

Milenial, terutama mahasiswa sebagai intelektual muda bisa memberikan edukasi terhadap masyarakat terkait hoaks ini. Mulai dari lingkungan terkecil di keluarga sampai masyarakat luas.

“Banyak warga yang baru mengetahui teknologi misalnya orang-orang tua dan di pedalaman. Baru pegang android dapat hoaks lalu main share. Ini yang perlu diedukasi,” katanya.

Milenial mesti mampu memberikan analisa terhadap berita bohong. Kemudian menjawab berita-berita hoaks tersebut agar masyarakat dapat memahaminya.

“Mengurangi ribuan hoaks di medsos itu, kita harus mampu menjawabnya jika itu salah. Kita analisa, klarifikasi secara rasional. Hoaks itu punya kepentingan dan mencuci otak. Jangan sampai kita tak mampu menganalisa kebenaran berita, malah disebarkan lagi. Itulah yang makin memperparah,” paparnya.

Sementara terhadap Pemilu damai, Sukiryanto sebagai ketua dari salah satu paguyuban sekaligus Wakil Ketua PWNU Kalbar ini memang aktif bersama organisasi kemasyarakatan lain menggelar diskusi lintas etnis dan agama.

“Menciptakan kedamaian, kami tokoh etnis maupun agama rutin menggelar dialog dalam dua pekan sekali. Membahas dan memikirkan kedamaian di Kalbar. Sehingga tak ada gesekan. Yang terkadang muncul dari individu malah dibesar-besarkan menjadi etnis atau golongan,” jelasnya.

Sukiryanto menyebutkan, kedamaian adalah elemen penting dalam pembangunan daerah. Maka itu, di saat momentum Pemilu ini, kedamaian memang patut dirawat bersama agar tak mengkhianati hasil pemilihan nanti.

“Apa pun tingkat pembangunan, maka perlu kedamaian. Dianalogikan ibarat makan sekenyang-kenyangnya mesti minum air. Nah damai itulah airnya. Ketika damai diperoleh, berarti menjadi tolak ukur kemakmuran rakyat,” ujarnya.

Dialog ini, juga dihadiri mantan Kapolda Kalbar, Irjen Pol Purnawirawan Erwin TPL Tobing. Mahasiswa yang hadir tampak antusias mengikuti agenda dialog siang itu. (*)