Survei Pride: Masyarakat Menilai Program Karolin-Gidot Mampu Entaskan Kemiskinan

oleh -1.419 views
Karolin bersama warga.

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – Calon gubernur dan wakil gubernur Kalbar nomor urut dua, Karolin Margret Natasa dan Suryadman Gidot, dinilai sebagai pasangan yang mampu menjalankan pemerintahan daerah yang bersih, transparan, dan bebas dari korupsi.

Penilaian ini berdasarkan hasil survei yang dilakukan Pusat Riset Demokrasi (Pride) terhadap 1200 responden di 100 kelurahan/desa di 14 kabupaten/kota yang ada di Kalbar pada 5-10 Juni lalu.

“Terkait menjalankan pemerintahan daerah yang bersih, transparan dan bebas dari korupsi, pasangan calon Karolin-Gidot memperoleh angka tertinggi sebesar 48 persen, diikuti pasangan calon Sutarmidji-Norsan sebesar 43 persen, dan Milton-Boyman sebesar 9 persen,” ungkap Henry Robert, Direktur Pride, memaparkan hasil survei kandidat Pilkada Kalbar 2018 di Pontianak, Jumat (22/6/2018).

Tidak hanya mampu menjalankan pemerintahan yang bersih, transparan, dan bebas dari korupsi apabila nantinya dipercaya memimpi Kalbar lima tahun ke depan, dari hasil survei itu juga, program yang ditawarkan Karolin-Gidot dinilai berorientasi pada pengentasan kemiskinan.

Henry mengatakan, dari 1200 responden, program kerja Karolin-Gidot paling diyakini bisa menurunkan angka kemiskinan di Kalbar. Tingkat kecenderungannya sebesar 48,42 persen.

“Untuk program pengentasan kemiskinan, responden menilai pasangan Karolin-Gidot lebih mampu, yaitu sebesar 48,42 persen dan diikuti paslon Sutarmidji-Ria Norsan sebesar 40,08 persen dan diikuti oleh pasangan Milton-Boyman sebesar 11,50 persen,” katanya.

Dalam melakukan survei, Pride menggunakan metode multistage random sampling. Pengambilan sampel dilakukan secara proporsional.

“Sedangkan margin of error (MoE) adalah 2,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen,” ujar Henry.

Lebih lanjut ia menerangkan, cara pengambilan responden dilakukan secara acak dimulai dengan menentukan kecamatan, kelurahan/desa secara acak, kemudian menentukan RT secara acak dan akhirnya menentukan keluarga arget (responden).

“Jumlah responden terpilih secara random 1200 orang yang tersebar di 100 kelurahan/desa di 14 kabupaten/kota secara proporsional. Sedangkan survei dilaksanakan dengan cara interview tatap muka (face to face interview),” jelasnya.

Adapun karakteristik respon yang diinterview, berusia 17-60 tahun ke atas. Dari segi pendidikan, responden diambil dari mereka yang berpendidikan SD sampai lulusan perguruan tinggi. (*/qrf)