AJI Pontianak : Jurnalis Bukan Juru Kampanye

oleh -1.092 views
Aksi damai para jurnalis dalam peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia yang diselenggarakan di Bundaran Digulis, Pontianak, Kalimantan Barat (3/5/2018)

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pontianak menyerukan independensi media dalam tahun politik ini tetap terjaga.

“Satu hal yang harus diingat bahwa jurnalis bukan juru kampanye,” ujar Ketua AJI Pontianak Dian Lestari dalam orasi peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia di Bundaran Digulis, Pontianak, Kamis (3/5/2018).

“Kita menolak keras segala bentuk jurnalisme yang berpihak kepada penguasa,” tambah Dian.

Sebagaimana diketahui, tahun 2018 merupakan tahun politik, dimana terselenggaranya Pilkada Serentak di Kalbar yang meliputi Pilgub Kalbar, Pilwako Pontianak, Pilbub Mempawah, Pilbub Kubu Raya, Pilbup Sanggau dan Pilbub Kayong Utara.

Tahapan Pilkada Serentak 2018 juga beririsan dengan Tahapan Pileg dan Pilpres 2019.

Tahun politik, sambung Diab, tentu menjadi tantangan bagi pers di Bumi Khatulistiwa untuk mempraktikkan jurnalisme yang profesional dan independen.

“Profesionalisme pers harus berdiri di atas kepentingan rakyat, bukan pada kepentingan kelompok tertentu,” kata Dian.

Sedangkan independen, sebut Dian, bukan berarti tidak berpihak, tapi keberpihakan pers untuk kepentingan publik, dan kelangsungan demokrasi.

Menyikapi kondisi tersebut, dalam menyambut hari kebebasan pers sedunia (World Press Freedom Day) pada 3 Mei 2018, AJI Pontianak menyatakan sikapnya sebagai berikut :

1. AJI Pontianak mengingatkan seluruh jurnalis yang meliput pelaksanaan Pilkada Serentak 2018 harus bersikap independen, tidak terlibat politik praktis, dan non partisan, sebagaimana amanat UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan Surat Edaran Dewan Pers Nomor 01/SE-DP/2018 tentang Posisi Media dan Imparsialitas Jurnalis dalam Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu Serentak 2019.

2. AJI Pontianak mengajak pers nasional maupun daerah tidak larut dalam dinamika kompetisi politik Pilkada, sehingga isi pemberitaan menjadi tidak berimbang.

3. AJI Pontianak mengajak pers terus berupaya menyajikan informasi akurat demi melawan berbagai kabar bohong alias hoaks. Dengan demikian, fakta kebenaran yang diungkap media arus utama tidak lantas tertutup oleh hoaks.

4. AJI Pontianak mengingatkan seluruh jurnalis tidak menjadikan media sosial/ medsos sebagai sumber utama berita. Lantaran medsos kerap menjadi sarana penyebaran berita-berita hoaks yang tak jelas ujung pangkalnya. Media harus memuat berita-berita hasil kerja jurnalistik yang profesional dan mematuhi kode etik jurnalis.

5. AJI Pontianak meminta aparat penegak hukum menggunakan UU Pers sebagai lex specialis saat menangani perkara yang terkait pemberitaan atau produk jurnalistik.

6. AJI Pontianak meminta masyarakat dan organisasi berbasis masyarakat menghormati kerja jurnalistik, sebagai profesi yang dilindungi Undang-Undang. Jika terdapat ketidakpuasan atau sengketa Pers diharapkan menggunakan jalur yang diatur Undang-Undang yaitu Dewan Pers. (noy)