Ramadhan dan Penjernihan Diri

oleh -870 views

Oleh: Dr. KH. Syarif, S. Ag. MA

(Plt Rektor IAIN Pontianak)

Selamat untuk kita semua karena nasih diberi kesempatan oleh Allah untuk kembali beramalih di bulan Ramadhan tahun ini. Karena tidak semua orang mendapatkan itu, dikarenakan ada di antara keluarga, sahabat, dan tetangga kita yang hari ini telah tidak dapat lagi bersama kita mengarungi Ramadhan.

Sejatinya inti Ramadhan adalah berpuasa. Amaliah yang lain hanya sebagai tambahan dan sebagai contoh dari tindak lanjut amaliah puasa. Shaum itu artinya menahan. Secara terminologi hakikat, bahwa puasa adalah si mukmin mempuasakan hawa-nafsu. Sedang puasa yang kita kenal secara terminologi bahwa ia adalah menahan tidak makan, tidak minum, dan tidak bersenggama dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari, itu adalah bentuk latihan secara fisik. Sedang Tuhan tidak menilik yang fisik-fisik.

Jadi oleh karena itu kita yang berpuasa disyaratkan untuk mengetahui hal-hal yang harus ditahan. Kalau disebut Mukmin mempuasakan hawa-nafsu maka kita harus tahu bentuk nyata dari hawa-nafsu. Hawa nafsu-nafs itu dalam bentuk nyata berupa nafs ammaarah berupa sifat emosional karena mudah marah dan mudah terdinggung, dan naf lawwamah berupa sifat ‘ajib-‘ujub-‘ijbun ialah sifat kagum akan dirinya, sifat suka membanggakan dirinya. Lalu sigat riya’ adalah sifat yang suka memamerkan amal baiknya karena minta dipuji. Kemudian sifat takabbur, sifat ini ialah sifat sukan membesar-besarkan dirinya.

Berikutnya jika pujian yang diinginkan tidak tercapai maka muncul sifat iri-dengki. Sifat iri-dengki ini kebiasaan tidak suka terhadap kebaikan, keberhsilan, dan kemuliaan orang lain. Selanjutnya melahirkan sifat yang dapat membahayakan orang lain yaitu sifat menghasut yaitu kebisaan membagikan atau mempropagandakan sifat tidak senangnya terhadap orang lain kepada orang yang lebih banyak. Tujuannya adalah untuk memfitnah orang yang tidak disenanginya itu. Lalu berikutnya sifat tamak-loba. Sifat ini sebenarnya yang menjadi katar belakang sifat-sifat yang tadi. Sifat ini sebenarnya sigat yang dilahirkan oleh sifat dunia yaitu sifat pantang kekurangan. Yang terakhir sifat sombong yaitu sigat angkuh.

Secara praktis, sifat-sifat ini diperilakui oleh setiap orang yang bernyawa. Sifat ini terjadinya pada setiap manusia tidak hanya pada bulan Ramadhan tetapi terjadi setiap hari sepanjang bulan dan sepanjang tahun. Atas dasar inilah mukmin diperintah untuk berpuasa secara fisik di bulan Ramadhan untuk melatih diri atau sebagai cara atau contoh menahan hawa-nafsu. Sebenarnya mukmin mempuasakan hawa-nafsu itu bermakna konkret bahwa setiap diri pada manusia diperintahkan untuk tidak bertindak dan berkata dengan nafs ammaran dan nafs lawwamah tadi.

Dari sini dapat dipahami bahwa Ramadhan hanya sebagai wadah Training Center. Tempat pemusatan latihan. Hasilnya tidak digunakan pada bulan ramadhan tetapi digunakan pada hari-hari sesudah Ramadhan. Dengan kepahaman seperti ini dapat dimaknai selanjutnya bahwa puasa atau menahan diri secara hakikat, secara maknawi, secara non fisik wajib dilakuakn sepanjang tahun. Eksistensi Ramadhan dengan begitu adalah sebagai bulan latihan. Jika tidak difahami seperti ini, kemudian tidak dapat kita mengerti hadits nabi bahwa “banyak ormag yang berpuasa tapi hanya mendapatkan lapar dan dagaha”.

Jadi, puasa ini sebenarnya dalam rangka penjernihan diri dari sifat-sifat yang merusak seperti diurai di atas. Oleh karena itu puasa seseorang tidak akan sampai di sisi Tuhannya jika dalam melakukannya masih tersimpan sifat-sifat perusak tersebut. Maka sebab itu dalam Ramadhan mengiringi pewajibam puasa bahu umat Muhammad, disyariatkannya Salat Tarawih. Mengapa, ternyata lapar dan haus tidak dapat menolong kita utuk tidak berbuat dengan nafs ammarah dan nafs lawwamah tersebut. Dari sini masuk kepahaman teks Alquran, “sesungguhnya shalat itu mencegah keji dan mungkar… Qs. 29:45”.

Keji dan mungkar dalam konteks ini adalah dua sifat diri yang merusak tadi, yaitu nafs ammarah dan nafs lawwamah. Salat Tarawih juga sebagai latihan untuk intensitas salat di luar Ramadhan. Yang menarik kita dalami adalah, mengapa salat yang bisa mencegah keji dan munkar? Apanya dari salat itu yang bisa mencegah keji dan munkar? Apakah gerakan dan bacaan salat yang dapat mencegah keji dan munkar?

Dalam konteks pertanyaan-pertanyaan ini kita pahami dulu suatu hadis bahwa “innallaaha laan yanzhuru ilaa ajsaamikum walaa ilaa a’maalikuk walaakin yanzhuru ilaa quluubikum wa biyyatikum—Allah tidak menilik jasmani dan amalmu (lahiriah), melainkan Allah memandang hati dan niatmu”. Artinya yang dapat menolong dari shalat (seperti berita teks Alquran, Qs. 2:45) itu bukan bacaan dan gerakannya. Teks-teks Alquran di atas, harus kita munasabat—hubungkan dengan teks lain. Ternyata Alquran menjelaskn bahwa untuk mengikis atau mencabut sifat-sifat buruk itu adalah hak dan wewenang Allah. Misalnya dijelaskan bahwa “Allah yang memisahkan penyakit hati itu dari hati manusi…Qs. 8:24”.

Di keterangan ayat yang lain disharihkan bahwa “Kami yang mencabut penyakit hati di dalam dada mereka (di tempat) yang mengalir di bawah mereka sungai-sungai…Qs. 7:43”. Artinya kita harus mendapat kepahaman tentang hakikat salat dan tidak sekadar melaksanakan ritual bacaan dan gerakan salat. Jika kita lihat dari segi terminologinya saja bahwa salat itu se-istiqaq atau seakar kata dengan shilat, yang artinya hubungan. Maknanya, untuk maksimalisasi fungsi salat secara hakikat kita harus mengerti cara berhubungan yang benar dengan subyek yang kita sembah dalam salat. Yang kita sembah yakni Dzat-Nya Allah Subhanahuu wa ta’aalaa. Ternyata Qs. Thaha/20:14, antara menyembah, shalat, dan mengingat Allah tidak boleh dipisahkan, “…sembah Aku, dirikan shalat (hubungan hati), ingat Aku”. Inti dari hubungan hati itu adalah mengingat Allah. Maka berikutnya kita harus mendalami cara mengingat Allah, sebab Allah adalah wujud yang tidak terlihat. Jadi bagaimana wujud yang tak terlihat bisa diingat?

Jadi hikmah atau yang berguna dari disyariatkannya Salat Tarawih adalah untuk melatih intensitas shalat kita di luar Ramadhan. Mengingat, bahwa hanya salat yang dapat mencegah keji dan mungkar yang berupa nafs ammarah dan nafs lawwamah. Maka oleh karena itu, puasa pada bulan Ramadhan ini harus diiringi dengan kepahaman tentang salat atau hubungan hati yang benar kepada Allah, supaya diri ini kembali jernih seperti baru dilahirkan ibu kita. (*/qrf)