Refleksi Akhir Ramadan

oleh -1.023 views

Oleh: Syarif

Rektor IAIN Pontianak

Tinggal hitungan hari bulan suci Ramadan berakhir, maka tidak lama lagi melangkah ke 1 Syawal yang kita kenal hari raya Idul Fitri. Idul Fitri artinya di hari itu kita merayakan keberhasilan kembali kepada fitrah.

Secara bahasa Idul Fitri asalnya iidu al-fithri, ialah kata majemuk yang dalam bahasa Arab disebut idhaafatun/idhaafah. Kalimat ini jika diterjemah menjadi “kembalinya fitrah”. Fitrah (taa’ marbuthah) dilacak dalam kamus-kamus Arab berarti himlah/hamlah yang artinya bawaan atau bawaan dasar. Jadi instrumen penting untuk kita dapat mengenal makna esensi hari raya ini adalah kita harus tahu apa wujud fitrah atau bawaan dasar itu.

Kenapa hari raya kembalinya fitrah itu pada hari setelah Rahamadan selesai? Apa hubungan Ramadan dengan kembalinya fitrah itu?

Ada dua bawaan dasar yang secara nyata dapat kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari tanpa harus mengetahui atau mensignifikansi dari literatur qirthaas. Yaitu pertama, bawaan dasar ruh atau sesuatu wujud non material yang dibawa atau tepatnya dianugerahkan kepada ruh, disebut fithrah ruuhiyah.

Fithrah ruuhiyah berupa sifat baik dan konstan yaitu sifat shiddiq yang artinya baik atau jujur. Sifat ini berupa esensi yang sangat halus dan dalam. Sifat ini berupa zat atau rasa. Sifat ini nanti disebut inti diri atai lubb atau albaan dalam bahasa Alquran. Sifat inilah yang disebut amaanah atau kepercayaan Allah dititip atau dianugerahkan kepada ruh. Sifat ini sebagai wujud yang dipercaya oleh Allah untuk menjadi dhips atau pengintai atas apa yang diperbuat oleh ruh.

Maka sifat ini berfungsi tabliigh atau penyampian. Yaitu sifat jujur ini menyampaikan secara otomatis, diperintah atau tidak tentang apa yang diperbuat oleh ruh saat menunggangi tubuhnya. Penyampaian atau tabliigh ini berupa catatan yang ada di dalam dada.

Kita boleh buktikan bahwa di dalam dada kita ada catatan tentang semua yang kita buat. Apakah perbuatan itu baik maupun tidak baik. Sebenarnya catatan inilah yang disebut kitaab yang tidak ada keraguan itu (Qs.2:2). Sebab catatan atau kitaab yang dimaksud secara mutlak dan pasti tidak bisa dibantah. Sebab catatan atau kitaab tersebut sifatnya tidak bengkok (Qs. 18:1).

Ciri bahwa sifat shiddiiq ini berfungsi, seseorang tampil dengan cerdas atau fathanah. Mengapa fathanah, karena dia selalu mendapat pertimbangan dari inti diri yang selalu baik itu. Fithrah ruuhiyah ini sesungguhnya dianugerahkan Allah dalam rangka supaya ruh menampilkan kelakuan baik saat berbuat dengan tubuhnya. Mengapa ruh yang dibekali, karena ruh ini yang aktif dan mengaktifkan organ tubuh. Menurut Alquran ruh inilah yang punya penglihatan, pendengaran, dan rasa (Qs. 32:9).

Kedua, bawaan dasar insaan atau manusia, disebut fithrah insaaniyah. Fitrah ini terasa wujud atau ada karena ada fithrah ruuhiyah tadi. Adapun wujud fithrah insaaniyah ini adalah berupa pertama, nafs ammara (Qs. 12:53), yaitu sifat emosional karena mudah maran dan mudah tersinggung. Sifat ini pasti memerintah kepada keburukan. Di hadapan orang marah pasti tampak semua orang tidak baik.

Kedua, nafs lawwaamah (Qs. 75:2), wujudnya berupa sifat-sifat yang disebut sepuluh maksiat batin, yaitu sifat ‘ajiib/‘ujub/‘Ijbun. Sifat ini adalah sifat yang selalu membanggakan diri. Sifat bangga ini yang memicu sifat keinginan untuk mendulang pujian atau riyaa’. Ini telah masuk bibit sifat takabbur.

Takabbur ini kata kerjanya agau fi’ilnya adalah takbbara yang artinya membesarkan diri. Jika sifat ini sudah bersemi maka akan lahir sifat iri-dengki jika orang tidak memuji dia. Muncul sifat tidak suka terhadap orang lain yang lebih baik dari dirinya. Sifat iri-dengki ini yang menuntun orang untuk menghasut orang banyak untuk memfitnah orang yang tidak disukainya. Sifat-sifat ini sangat berkait erat dengan sifat kelakuan tamak-loba. Kesemua inilah yang tercermin pada diri orang sombong.

Kalau kita cermati, maka fithrah insaaniyah inilah yang kadang lebih menonjol daripada fithrah ruuhiyah. Nah, Ramadan sejatinya untuk melatih diri supaya dapat meredam fithrah insaniyah ini dan tidak diprilakui oleh setiap diri. Refleksi yang Ramadan yang dapat kita renungkan bahwa, sesungguhnya kita bisa mengukur tentang sukses dan tidaknya amaliah Ramadan berpengaruh kepada kehidupan kita.

Ujungnya dari semua ini yang kita rasakan bahwa sesungguhnya amaliah itu tidak dapat menolong untuk redamnya diri berperilaku dengan fithrah insaaniyah. Karena buktinya bahkan dalam keadaan beramaliah Ramadan seseorang atau mungkin bahkan kita tetap saja memperilakui fithrah insaaniyah tersebut.

Itu sebabnya refleksi berikutnya, ialah bahwa kita harus tahu tentang esensi pertolongan Tuhan. Bahwa Tuhan tidak menilik amaliah lahiriah.

Maka oleh karena itu amaliah lahiriah seperti tidak makan dan tidak minum harus disertai dengan intensitas huhungan hati kepada Tuhan. Dalam bahasa sufistik hikmah harus disertai dengan berhakikat. Berhakikat ini artinya datang secara non fisik yang bertumpu kepada ingat di tempat tujuan hati.

Awas! Amaliah lahiriah harus disertai hakikat. Artinya tidak meninggalkan amaliah syariat. Tentu karena Tuhan-lah sebagai tujuan hati, maka kita harus jujur betul dengan kinerja hati kita saat beramaliah syariat seperti berpuasa.

Sifat shiddiiq tadi tahu betul dengan arah hati kita saat kita beramaliah syariat. Maka selanjutnya harus kita belajar terus tentang cara-cara tepat memfokuskan hati. Jangan anggap remeh. Jangan karena kita sudah fasih dengan ritual bacaan lalu merasa tidak perlu belajar tentang hati. “Kami (kata Tuhan) yang memperbaiki penyakit hati di dalam dada (Qs. 7:43, 8:25). Artinya bukan bacaan atau ritual syariat yang membuat seseorang menjadi baik atau lebih baik, tetapi itu hak wewenang-Nya.

Selanjutnya, yang ini adalah inti bahwa Ramadhan tidak boleh berjarak dengan Syawal. Syawal artinya peningkatan. Hari pertama Syawal adalah hari pertama merefleksikan nilai Ramadan. Meningkat dari segi nilai adalah fithrah ruuhiyah harus lebih menonjol perannya dalam kehidupan.

Karena sesungguhnya Ramadan dan amaliahnya dalam rangka menekan kinerja fithrah insaaniyah. ‘Idu al-fithri di 1 Syawal adalah kembali peran fithrah ruuhiyah mengungguli fithrah insaaniyah. Kebaikan harus dominan. (*/qrf)