Menag Lukman Klarifikasi Rilis 200 Mubaligh

oleh -1.199 views
Menag Lukman Hakim Saifudin saat di Kalbar, meresmikan Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri (STAKatN) Pontianak Kamis (6/4). Sekolah agama yang beralamat di Jalan Parit Haji Muksin Km 2, Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.

JAKARTA, KILASKALBAR.com – Kementerian Agama (Kemenag) RI telah merilis daftar 200 nama mubaligh yang bisa mengisi kegiatan keagamaan seperti pengajian dan majelis taklim. Rilis nama-nama itu setelah Kemenag banyak mendapatkan masukan dari masyarakat, sehingga rekomendasi dinilai penting agar masjid, musala ataupun majlesi taklim yang akan menghadang kegiatan keagamaan khususnya di bulan Ramadan memiliki pilihan siapa mubaligh yang akan diundang.

Namun belakangan, rilis daftar nama-nama mubaligh oleh Kemenag memunculkan persoalan di masyarakat. Kemenag dianggap melakukan pemilahan terhadap mubaligh.

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menegaskan bahwa rilis daftar 200 nama mubaligh bukan dalam rangka untuk memilah-milah mana penceramah yang boleh berceramah dan mana yang tidak boleh berceramah.

“Bukan itu tujuannya. Ini semua dalam rangka memenuhi harapan dan permintaan dari masyarakat,” ujar Menag Lukman usai membuka gelaran Syiar Anak Negeri atau lomba nasyid kalangan milineal di salah satu studio tv di Jakarta, Sabtu petang (19/5/2018).

Menurut Menag, rilis daftar nama mubaligh itu dalam rangka menjawab pertanyaan masyarakat terkait mubaligh yang bisa berceramah, baik di musala, masjid dan tempat pengajian lainnya.

“Artinya di kemudian hari akan muncul nama-nama sesuai dengan masukan yang kita terima dari tokoh-tokoh ulama dan ormas Islam. Sehingga mereka bisa kita manfaatkan ilmunya. Ini daftar yang sangat dinamis dan akan senantiasa mengalami updating dan perubahan penambahan,” terangnya.

Ia menambahkan, setelah nama-nama mubaligh dikumpulkan, setidaknya ada tiga hal menjadi poin yang dicermati yaitu:

1. Mereka-mereka yang betul mumpuni dalam arti menguasai secara mendalam dan luas tentang substansi ajaran Islam.

2. Memiliki pengalaman yang cukup besar sebagai penceramah.

3. Memiliki komitmen yang tinggi terhadap kebangsaan.

“Nah atas dasar itulah kami merilis 200 nama pencermah tersebut. Yang harus menjadi catatan kita semua adalah bahwa ini adalah rilis yang pertama dan bukan satu-satunya,” tegas Menag. (*/qrf)

Daftar Nama Mubaligh/Penceramah Islam Indonesia