Mantan Rektor IAIN Pontianak Divonis 1,4 Tahun Penjara

oleh
Suasana sidang putusan terhadap terdakwa Hamka Siregar yang digelar di Pengadilan TIndak Pidana Korupsi, Jalan Urai Bawadi, Pontianak (26/3/2018).

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – Mantan Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Hamka Siregar divonis 1,4 tahun penjara dalam sidang putusan yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jalan Urai Bawadi, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (26/3/2018). 

Selain hukuman penjara, terdakwa juga dikenakan denda sebesar Rp 50 juta dalam sidang putusan tindak pidana korupsi (tipikor) proyek pengadaan meubelair Rusunawa IAIN Pontianak (dulu STAIN Pontianak) Tahun Anggaran 2012.

Hakim Ketua Haryanta menyebutkan, meski Hamka Siregar tidak terbukti melakukan tipikor dan memperkaya diri sendiri, namun kelalaiannya dalam kasus ini mengakibatkan kerugian negara dan memperkaya orang lain.

Hakim juga menilai tindakan yang dilakukan Hamka memenuhi dakwaan subsider Pasal 3 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 Ayat 1 Ke 1 KUHP.

“Walaupun tidak ditemukan uang sepeserpun yang dinikmati terdakwa dalam proyek ini, namun kelalaian terdakwa selaku KPA mengakibatkan kerugian negara karena memperkaya orang lain,” ujar Haryanta, Senin (26/3/2018).

Meski demikian, dalam putusannya majelis hakim tidak sependapat dengan jaksa penuntut terkait lamanya masa hukuman. Hamka divonis lebih rendah dari tuntutan jaksa. 

“Terdakwa dipidana penjara satu tahun empat bulan dengan denda Rp 50 juta subsider satu bulan penjara, kami rasa itu sudah cukup adil,” jelasnya. 

Usai sidang putusan, majelis hakim memberi kesempatan kepada terdakwa maupun jaksa penuntut selama tujuh hari apakah menerima atau akan mengajukan banding terhadap putusan tersebut. 

“Kalau tidak ada tindak lanjut, berarti terdakwa dianggap menerima putusan. Keputusan belum berkekuatan hukum tetap, namun terhadap pemeriksaan perkara ini di Pengadilan Tipikor Pontianak dinyatakan selesai dan sidang ditutup,” ungkapnya. 

Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Pontianak, Juliantoro SH mengatakan pihaknya akan mempertimbangkan vonis hukuman bagi terdakwa dalam sidang putusan, karena putusan tersebut jauh dibawah tuntutan jaksa. 

“Jaksa menuntut dua tahun dan denda Rp 50 juta, sedangkan hasil putusan sesuai yang kita dengar bahwa Majelis Hakim memutuskan 1,4 tahun dan denda Rp 50 juta,” ujar Juliantoro. 

Sementara itu, kuasa hukum Hamka Siregar, Maskun Sofyan menyatakan pihaknya akan pelajari kembali amar putusan yang dibacakan oleh majelis hakim terhadap kliennya tersebut.

“Kami akan mempelajari putusan ini, apakah akan melakukan upaya hukum atau tidak, atau terdakwa dengan legowo menerima putusan ini,” ujar Maskun.

Kuasa hukum juga akan mempertimbangkan dalam waktu tujuh hari pasca pembacaan putusan. Maskun menyebutkan kliennya akan menunjung tinggi proses hukum yang berlaku, termasuk tahapan-tahapan selanjutnya dalam upaya mencari keadilan hukum. (noy)