Rumah Digusur, Keluarga Hj Ilma Trauma

oleh -571 views

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – Rentina anak Hj Ilma tak kuasa menahan tangis ketika menceritakan kejadian pilu yang menimpa ia dan keluarganya. Mereka menjadi korban penggusuran oleh Satpol PP Kabupaten Bengkayang, Sabtu (22/12/2018).

Rumah dan tanam tumbuh yang berdiri di lahan seluas tiga hektare, di Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, kawasan Pantai Kura-Kura dieksekusi secara paksa. Ini merupakan buntut sengketa lahan dalam proyek pembangunan PLTU di lokasi itu yang dikerjakan oleh PT GCL Indo Tenaga.

“Saya minta tegakkan hukum yang benar bagi rakyat miskin, untuk keadilan. Kita tidak ada merampas, ini tanah kami. Masih sedang berjalan proses hukum,” katanya ditemui di Mapolda Kalbar, Senin (24/12/2018).

Kedatangan Rentina bersama sang ibu, Hj Ilma didampingi kuasa hukumnya, Daniel Edward Tangkau di Mapolda Kalbar guna membuat laporan terkait penggusuran yang dianggap sepihak. Pokok materi laporan adalah pengrusakan dan penyerobotan tanah.

Keluarga ini mengaku sangat dirugikan atas penggusuran itu. Terlebih lagi, sengketa masih menempuh proses hukum di PTUN sehingga belum memiliki kekuatan hukum tetap. Tanah itu sendiri sudah ditempati Hj Ilma dan keluarga sejak tahun 1960-an.

“Kami juga belum menerima sepeser pun uang ganti rugi,” katanya.

Rentina berkisah, sempat mengalami perlakuan tak mengenakkan dari sejumlah oknum aparat saat eksekusi lahan tersebut berlangsung.

“Selepas salat Ashar, kita diberikan waktu untuk membereskan. Saya sudah tak berdaya, menghadang eksavator. Tapi ditarik dan diangkat. Bahkan ada terdengar aparat yang menyebut untuk membuang saya ke laut,” kisahnya.

Atas perlakuan tersebut, Rentina mengaku trauma. Apa yang diinginkannya saat ini adalah sebuah keadilan yang berpihak terhadap ia dan keluarganya.

“Saya merasa trauma. Saya meminta jangan dirobohkan. Tapi itu sudah terjadi. Kembalikan rumah kami. Kami minta keadilan,” katanya.

Bukan cuma Rentina dan sang Ibu yang mengalami kejadian menyedihkan ini. Abang Rentina, Rajudin bahkan harus telantar dan tinggal di bawah pohon pasca rumahnya dihancurkan.

Sebelumnya, kuasa hukum Daniel Edward Tangkau menjelaskan, persoalan hukum tersebut berawal ketika PT GCL Indo Tenaga mengingkari kesepakatan untuk membayar ganti rugi lahan sebesar Rp900 juta.

“Kami tidak menghalangi pembangunan PLTU di kawasan Pantai Kura-Kura tersebut, tetapi tolong hormati proses hukum yang sedang berlangsung, sehingga tidak terkesan hukum hanya tajam pada masyarakat kecil, seperti klien kami ini,” ungkapnya.

Berdasarkan SKT milik Hj Ilma, dia pun mengajukan gugatan di PTUN. Selain itu, pihaknya pun mempertanyakan pihak BPN yang mengeluarkan HGB di atas lahan milik Hj Ilma tersebut. (*)

Rentina (kiri) bersama ibunya, Hj Ilma (kanan ujung) di Mapolda Kalbar