SPORC Brigade Bekantan Gagalkan Perdagangan 9,45 Kg Sisik Trenggiling

oleh -1.560 views
Pelaku beserta barang bukti saat diamankan petugas

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Bekantan Balai Gakkum KLHK Kalimantan Seksi Wilayah III Pontianak mengamankan dua pelaku PD (25) dan JN (27) karena diduga melakukan tindak pidana perdagangan bagian satwa yang dilindungi undang-undang.

David muhammad, kepala seksi wilayah III Pontianak Balai Gakkum Kalimantan mengungkapkan, kedua pelaku tersebut diamankan ketika akan memperjualbelikan sisik trenggiling (Manis Javanica) di depan sebuah rumah makan di Jalan Raya Sintang – Nanga Pinoh, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Selasa (22/5/2018) yang lalu.

Keduanya tertangkap tangan petugas SPORC bersama Korwas PPNS Ditreskrimsus Polda Kalbar.

“Penangkapan terhadap dua pelaku ini berawal laporan yang diterima Tim SPORC dari masyarakat akan adanya perdagangan sisik trenggiling di daerah Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi,” ujar David, Kamis (25/5/2018) malam.

Menindaklanjuti laporan tersebut, sambung David, pihaknya kemudian melakukan penyelidikan dan mendapatkan informasi bahwa akan ada transaksi perdagangan sisik trenggiling di depan sebuah rumah makan di daerah Nanga Pinoh.

Saat dilakukan pengintaian, kedua pelaku terlihat sedang menunggu pembeli.

“Namun pembeli yang ditunggu oleh pelaku tidak juga datang. Setelah sekian lama menunggu, pelaku yang masih berada di atas motor nampak gelisah dan ingin pergi dari lokasi tersebut, dan langsung dibekuk petugas,” ungkap David.

Berdasakan pengakuan tersangka, sebut David, keduanya berasal dari daerah Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.

Kedua pelaku juga mengaku mendapatkan sisik rrenggiling tersebut dengan cara berburu di daerahnya.

“Setelah terkumpul, para tersangka ini membawa sisik trenggiling dan akan dijual di Nanga Pinoh sesuai dengan pesanan calon pembeli,” jelas David.

Rencananya, Siak trenggiling tersebut akan dijual dengan harga Rp 3,2 juta per kilogram.

PD dan JN telah lama melakukan jual beli sisik trenggiling dan rencananya 9,45 kg sisik Trenggiling tersebut akan dijual seharga 3,2 Juta/perkilo kepada BD pembeli dari Pontianak, saat ini Penyidik Balai Gakkum masih memburu keberadaan BD yang diduga merupakan jaringan dari sindikat perdagangan sisik Trenggiling di Kalimantan Barat.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua pelaku saat ini ditahan di Rutan Klas IIA Pontianak.

Pelaku diduga melanggar Undang-undang nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya Pasal 21 Ayat (2) huruf d jo Pasal 40 ayat (2) dengan ancam hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.

“Saat ini penyidik Balai Gakkum masih melakukan pengembangan penyelidikan untuk mengungkap pelaku dan jaringan peredaran perdagangan satwa dilindungi ini,” pungkas David. (Noy)