Dua Tersangka Penjual Sisik Trenggiling di Melawi Siap Disidangkan

oleh -2.393 views
Tersangka dengan barang bukti sisik trenggiling saat diamankan oleh aparat. Ist

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – Penyidik Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wilayah Kalimantan Seksi Wilayah III Pontianak telah merampungkan berkas perkara kasus perdagangan sisik trenggiling yang terjadi di Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.

Melalui rilisnya, Senin (23/7/2018), Kepala Seksi Wilayah III Pontianak Balai Gakkum KLHK Kalimantan, David Muhammad mengatakan, berkas perkara dua tersangka pemilik/pedagang sisik trenggiling (Manis Javanica) dinyatakan telah lengkap (P-21) pada tanggal 9 Juli 2018 oleh Kejaksaan Tinggi Kalbar.

“Penyerahan tahap II berupa tersangka PD (25 tahun) dan JN (27 tahun) dengan barang bukti 9,45 kilogram sisik trenggiling, 1 unit motor jenis Honda Supra X KB 4534 JS, 1 buah STNK Motor Honda Supra X Nomor: 13141219, 1 buah tas merk Polo, 1 unit Handphone Oppo A71, 1 buku kas pembukuan berburu trenggiling dilakukan oleh Penyidik Balai Gakkum pada hari Kamis tanggal 19 Juli 2018 di Kejari Sintang Kabupaten Sintang melalui JPU Kejaksaan Tinggi Kalbar,” ujar David di Pontianak.

Penyidikan terhadap kasus perdagangan sisik trenggiling yang terjadi di Kabupaten Melawi ini dilakukan pasca kegiatan operasi tangkap Ttangan oleh SPORC Brigade Bekantan Balai Gakkum KLHK Kalimantan Seksi Wilayah III Pontianak terhadap tersangka PD dan JN pada saat hendak memperjualbelikan sisik trenggiling di depan sebuah Rumah Makan Alam Raya di Jalan Raya Sintang-Nanga Pinoh Km 2, Kecamatan Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat pada hari Selasa tanggal 22 Mei 2018 yang lalu.

Dari penggeledahan terhadap pelaku, diamankan 9,45 kilogram sisik trenggiling di dalam sebuah tas Polo warna hitam yang diletakkan pada dug tengah Motor Honda Supra X yang dibawa oleh pelaku PD.

Dalam kasus ini, Penyidik Balai Gakkum menjerat Tersangka PD dan JN dengan Undang-Undang 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya Pasal 21 Ayat (2) huruf d jo. Pasal 40 ayat (2) dengan ancam hukuman penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 juta.

Kasus perdagangan bagian-bagian satwa yang dilindungi (sisik trenggiling) di Kabupaten Melawi tersebut merupakan kasus yang ketigakalinya yang berhasil diungkap oleh SPORC Brigade Bekantan.

“Proses yustisi yang dilakukan Balai Gakkum KLHK Wilayah Kalimantan merupakan salah satu upaya penegakan hukum terhadap pelaku perdagangan satwa liar yang dilindungi undang-undang. Penyidik Balai Gakkum akan terus mengungkap jaringan dari sindikat perdagangan sisik trenggiling di Kalimantan Barat,” tutur David. (*/qrf)