Soal Tuntutan ke Terdakwa Perdagangan Sisik Trenggiling di Nanga Pinoh, JPU Akan Lihat Fakta Persidangan

oleh -1.291 views
Kasi Pidum Kejari Sintang Robinson Pardomuan.

SINTANG, KILASKALBAR.com – Kasus perdagangan sisik trenggiling dengan terdakwa Ps (25) dan Jn (27) segera memasuki sidang kedua di Pengadilan Negeri (PN) Sintang. Kasi Pidum Kejari Sintang Robinson Pardomuan mengatakan, sidang kedua akan menghadirkan para saksi.

“Terhadap kasus ini saat ini disidangkan oleh Kejaksaan Negeri Sintang. Kalau perkara ini asalnya dari Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat. Dakwaan sudah kita bacakan. Nanti acara selanjutnya itu (menghadirkan) saksi di tanggal 21 Agustus,” ujar Robinson di Sintang, Kamis (8/8/2018).

Adapun para saksi yang rencananya akan dihadirkan, di antaranya Balai Gakkum Kalimantan, SPORC, dan beberapa masyarakat yang melihat penangkapan.

“Saksinya itu dari beberapa masyarakat yang melihat saat penangkapan itu, terus dari teman-teman SPORC. Ada juga dari teman-teman Konservasi, sama beberapa saksi penangkap,” kata Robinson yang merupakan JPU dari perkara tersebut.

Mengenai tuntutan, dakwaan Kejari Sintang Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem.

“Pasal 21 ayat 2 huruf d juncto pasal 40 ayat 2. Ancamannya itu lima tahun dan denda paling banyak Rp100 juta,” ucapnya.

“Kalau untuk dakwaan itu nanti keterangan saksi, apa yang terungkap di fakta-fakta persidangan bakal saya jelasin,” timpal dia.

Terkait tuntutan maksimal sebagaimana yang diminta Komunitas Peduli Bumi Lestari (KPBL), Robinson menjelaskan, tentu saja pihaknya berdasarkan keterangan para saksi.

Baca juga: Komunitas Peduli Bumi Lestari Minta Pelaku Perdagangan Sisik Trenggiling di Melawi Dihukum Berat

“Dasar kita untuk menunutut kan berdasarkan keterangan saksi-saksi, sesuai ketentuan pasal 184 KUHAP, saksi nanti juga ada salah satunya alat buktinya, petunjuknya nanti itu semua kita rangkum. Sebenarnya apa tujuan dia (terdakwa, red) bawa sisik trenggiling tersebut. Kalau alasan yang memberatkan memang fakta persidangan memang ini orang untuk menjual dan seringkali menjual beberapakali atau ini sebagai pekerjaannya, tentunya tuntutannya sendiri nanti kan kita konsultasikan ke pak Kajari. Setelah itu kita rentutkan (rencana tuntutan) ke Kejaksaan Tinggi. Untuk ancamannya sendiri kan dia maksimal lima tahun,” katanya.

Ps dan Jn ditangkap saat akan melakukan transaksi di sebuah rumah makan di Jalan Raya Sintang-Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, Selasa (22/5/2018) lalu, oleh Balai Gakkum Kalimantan, petugas SPORC bersama Korwas PPNS Ditreskumsus Polda Kalbar.

“Kalau untuk terdakwanya sendiri itu dari Kalimantan Tengah. Jadi mereka itu berasal dari Kabupaten Seruyan dari Kalteng. Rencananya sisik trenggilingnya ini bakal dijual dengan harga Rp3,2 juta per kilo. Untuk jumlahnya sendiri yang menjadi barang bukti itu ada sekitar 9,45 kilogram,” kata Robinson.

Berdasarkan keterangan tersangka saat penyerahan barang bukti di tahap kedua di Kantor Kejari, kata Robinson, trenggiling didapat dengan cara berburu.

“Setelah itu direbus, sisiknya diambil baru mereka kumpulkan dari beberapa teman-temannya di daerah Kalteng. Dia kumpulkan karena dia tahu nilai ekonomisnya. Kalau berdasarkan pengukuran para terdakwa, Rp3,2 juta per kilogram. Jadi mereka tergiur untuk itu,” terangnya.

“Kebetulan di Nanga Pinoh berjanji sama seorang pembeli yang belum diketahui oleh penyidik identitasnya siapa. Mungkin ketika berjanji itu, teman-teman dari SPORC melihat itu atau pengembangannya atau ada informasi sebelumnya, dilakukan penangkapan tetapi terhadap si pembelinya sendiri sampai saat ini masih dilakukan pengembangan untuk dilakukan penangkapan,” tutur Robinson.

Dikutip dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Sintang, barang bukti perkara terdakwa Ps, 8,65 kilogram sisik trenggiling, tas ransel berwarna hitam merk Polo Wisdom, sepeda motor merk Honda Supra KB 4534 JS, STNK, buku kas pembukuan berburu trenggiling berwarna biru, dan handphone merk OPPO A71 warna pink. Sedangkan terdakwa Jn, 0,8 kilogram sisik trenggiling. (qrf)