Punya Peran Penting pada Ekologi, Pelaku Pemusnahan Trenggiling Harus Dihukum Berat

oleh -1.844 views
Syahri, Koordinator Alliance Kalimantan Animal Rescue.

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – Menanggapi proses peradilan perkara satwa liar di Pengadilan Negeri (PN) Sintang, atas nama terdakwa Jinu dan Paskalis Domi, Koordinator Alliance Kalimantan Animal Rescue, Syahri menyatakan bahwa berdasarkan data kasus dari tahun 2016 sampai dengan 2018 diperoleh kesimpulan bahwa vonis hukuman di wilayah hukum Kalimantan Barat terhadap pelaku kejahatan satwa liar yang dilindungi masih terlalu rendah.

Hal ini tidak dapat menimbulkan efek jera bagi pelaku, serta tidak dapat memberikan rasa takut bagi orang lain untuk melakukan kejahatan serupa. Sehingga penegakan hukum dirasakan tidak efektif sebagai instrumen hukum untuk melindungi dan melestarikan satwa liar di Kalbar.

Sebagai salah contoh, sebagaimana dilansir dalam situs pangolin.org disebutkan bahwa “populasi trenggiling semakin menurun drastis”. Sejalan dengan itu, IUCN SSC Pangolin Specialist Group menyatakan bahwa dalam satu dekade terakhir, lebih dari jutaan trenggiling direnggut secara ilegal dari habitatnya.

Fenomena tersebut terjadi dikarenakan kurangnya kesadaran atau pengetahuan dari para penegak hukum, akan pentingnya untuk melindungi keberadaan satwa liar.

Dikatakannya lagi, masyarakat luas belum mengerti akan pentingnya keberadan trenggiling dalam suatu ekosistem. Sehingga trenggiling diburu secara luas. Padahal jika diteliti trenggiling memiliki peran dan fungsi yang sangat penting terhadap kelestarian alam. Trenggiling merupakan satwa yang sangat unik. Ia memiliki fungsi penting dalam sistem ekologi yakni sebagai pengendali hama yang dengan perilaku kesehariannya dapat menyuburkan tanah.

Baca juga: Kejari Sintang Tunggu Petunjuk Kejati soal Tuntutan Terdakwa Perdagangan Sisik Trenggiling di Nanga Pinoh

Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Sarah Pappin tahun 2011 di web pangolin.org disebutkan bahwa seekor trenggiling setidak-tidaknya mengonsumsi serangga termasuk rayap sekitar 70 juta pertahun.

Itu artinya, terangnya, sebanyak 191.780 serangga/rayap per hari yang dikonsumsi oleh seekor trenggiling. Bayangkan jika di suatu area terdapat 15 ekor trenggiling. Tentunya, banyak sekali serangga yang dimakan. Tentu hal tersebut akan sangat membantu bagi pengendalian hama dalam suatu ekosistem.

“Jika tidak, maka pertumbuhan serangga menjadi tidak terkendali. Dan hal ini dapat membahayakan lingkungan. Yang pada akhirnya akan mengancam pada kehidupan manusia,” ujar Syahri.

Selain itu, dilihat dari perilaku trenggiling dalam mencari makan dan membuat sarang. Secara tak langsung dapat menyuburkan tanah dengan kualitas yang lebih baik. Dengan kukunya, memungkinkan trenggiling menggali tanah untuk membuat sarang. Atau juga dalam mencari serangga atau rayap. akibatnya proses penyuburan tanah menjadi lebih baik. Dan hal tersebut menjadikan vegetasi tanaman tumbuh lebih baik.

Berdasarkan penjelasan ini, menjadi jelas bahwa trenggiling memiliki fungsi yang penting bagi kehidupan manusia dalam sebuah ekosistem. Untuk sangat penting bagi semua pihak untuk menjaga kelestarian trenggiling.

Namun, saat ini jumlah trenggiling di Asia dan Afrika menurun secara drastis, disebabkan adanya perburuan dan perdagangan secara illegal.

Faktor tersebut dipicu oleh adanya permintaan sisik dan daging trenggiling dari beberapa negara. Dan China adalah negara terbesar dari tujuan ekspor. Hal tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa sisik trenggiling dapat dijadikan sebagai obat. Selain itu bagi mereka daging trenggiling enak untuk dikonsumsi.

Baca juga: Tuntutan 2 Tahun dari Kejari Sintang untuk Terdakwa Perdagangan Sisik Trenggiling Dinilai Ringan

Sementara di Vietnam, daging trenggiling dijadikan sebagai kuliner ekstrim yang berasal dari satwa liar. Meskipun, sebenarnya tidak dapat dibuktikan bahwa trenggiling dapat dijadikan sebagai obat baik sisik atau bagian tubuh lainnya.

Persoalan perlindungan terhadap trenggiling, sudah menjadi permasalahan internasional. Yang mana kategori satwa tersebut oleh CITES sudah dimasukan dalam appendiks I.

“Artinya keberadaan trenggiling sudah benar-benar terancam punah. Untuk itu satwa tersebut tidak boleh diperdangangkan dalam bentuk apapun,” katanya.

“Berdasarkan data dari USAID, di tahun 2017 disebutkan bahwa sebanyak 32 ton sisik trenggiling dan 563 trenggiling hidup di Asia Renggara dan China telah diperdagangkan secara ilegal. Sejalan dengan data tersebut berdasarkan publikasi dari Conservation Letter, lebih dari 2,7 juta trenggiling terbunuh setiap tahunnya di Afrika Tengah. Dan dibanyak kasus jumlah trenggiling yang mati tidak dapat diidentifikasi,” ungkap dia.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, Alliance Kalimantan Animal Rescue meminta agar aparat penegak hukum agar dapat bertindak lebih tegas.

“Kami berharap agar setiap perkara yang diadili dapat diberikan sanksi yang maksimal. Sehingga dengan hukuman tersebut dapat memberikan efek jera bagi pelaku untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya. Disamping itu, dengan hukuman yang berat dapat memberikan efek rasa takut bagi orang lain untuk melakukan kejahatan yang serupa,” tutur Syahri. (qrf)