Frantinus Nirigi Minta FRKP dan JPIC Kapusin Kolaborasi dengan Pengacara dari Papua Tangani Kasusnya

oleh -1.711 views
Keluarga Frantinus Nigiri saat berkunjung ke sekretariat FRKP dan JPIC Kapusin, Pontianak

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – Frantinus Nirigi, yang ditetapkan tersangka dalam peristiwa dalam pesawat Lion Air JT687 di Bandara Supadio meminta pendamping dari Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) dan Justice, Peace, Integriti and Creation (JPIC) OFMCap Kapusin untuk mendampingi serta mengawal kasus yang menjeratnya.

Permohonan pendamping tersebut termuat dalam surat kuasa yang ditandatangani Frantinus Nigiri diatas materai Rp 6000 dan diketahui oleh pihak keluarga, Diaz Gwijangge pada 2 Juni 2018.

Ketua FRKP dan JPIC Kapusin, Bruder Stephanus Paiman mengatakan pihaknya mengucapkan terima kasih atas kunjungan pihak keluarga maupun para pengacara yang datang menemui dirinya.

“Permintaan dari keluarga Frantinus agar kami dapat berkolaborasi dalam pendampingan kasus tersebut,” ujar pria yang disapa Bruder Step ini, Kamis (7/6/2018).

Bruder Step menambahkan, setelah pihaknya mempelajari serta mencermati kasus tersebut, mereka akan mempersiapkan pengacara FRKP dan JPIC Kapusin, Andel Associates untuk berkolaborasi bersama kuasa hukum Frantinus dari Papua.

“Demi keadilan dan kebenaran, kami siap menerimanya. Semoga yang terbaik bisa kita tegakkan,” ujarnya.

Meski demikian, sambung Bruder Step, apabila Frantinus bersalah menurut pengadilan, maka silahkan untuk dihukum sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku.

“Namun, apabila tidak terbukti bersalah, maka mohon dibebaskan,” ungkapnya.

Biarawan Kapusin ini juga meminta untuk pihak yang berwenang untuk memproses  siapa penyebab utama kekisruhan yang terjadi di dalam pesawat  tersebut hingga mengakibatkan para penumpang panik dan keluar dari pintu darurat yang mengakibatkan adanya korban.

Sebelumnya, pihak kuasa hukum Frantinus Nirigi yang dibawa pihak keluarga dari Papua, Aloysius Renwarin dan Frederika Korain mengatakan jika pihaknya juga akan berkolaborasi dengan pengacara di Pontianak untuk menangani kasus ini.

Hal senada juga disampaikan oleh abang ipar Frantinus, Diaz Gwijangge terkait dengan kolaborasi antara pengacara dari Papua dengan Pontianak.

Saat ditahan dan ditetapkan sebagai tersangka, ujar Diaz beberapa waktu lalu, Frantinus sudah menyampaikan alamat keluarga angkat selama dia tinggal di Pontianak, maupun alamat orangtua di Papua.

“Tapi tidak dihubungi. Sehingga kami kemarin datang langsung dari Papua bersama tim kuasa hukum,” katanya.

Kuasa hukum yang disiapkan pihak keluarga, ungkap Diaz, berjumlah 6 orang. Tim kuasa hukum tersebut nantinya juga akan ditambah dengan pengacara yang berasal dari Pontianak. (Noy)