Akhirnya, Frantinus Nirigi Pulang ke Papua!

oleh -544 views

JAYAPURA, KILASKALBAR.com – Wajah Frantinus Nirigi memerah. Air mata tampak membasahi pipinya. Dia tak kuat menahan haru ketika kedua orangtuanya, Keluarga dan masyarakat Kabupaten Nduga, Papua datang satu persatu menghampiri dan memeluknya.

Setelah sempat tertunda karena proses hukum yang menjeratnya di Kalimantan Barat, Frantinus akhirnya menjejakkan kaki di tanah kelahirannya, Papua.

Seharusnya, Frantinus sudah berada di Papua pada akhir Mei 2018 lalu, sebelum akhirnya harus berurusan dengan hukum dalam peristiwa yang terjadi di dalam pesawat Lion Air JT 687 di Bandara Internasional Supadio pada 28 Mei 2018 silam.

Kedatangan Frantinus di Papua pun disambut layaknya seorang pahlawan dengan sambutan dari masyarakat adat Kabupaten Nduga, daerah asalnya.

Frantinus bertolak meninggalkan Pontianak, pada Selasa (13/11/2018) sore dan tiba di Jayapura, Papua pada Rabu (14/11/2018) pagi.

Frantinus pulang ke Papua setelah dia selesai menjalani masa hukuman 5 bulan 10 hari yang divonis Majelis Hakim Pengadilan Negeri Mempawah dipotong masa tahanan pada Minggu (4/11/2018) yang lalu.

Kepulangan Frantinus ke Papua didampingi oleh kuasa hukum yang menangani kasusnya, Andel dan ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) Pontianak, Bruder Stephanus Paiman OFMCap serta abang iparnya Diaz Gwijangge.

Tiba di bandara, Frantinus disambut tarian adat dan dikenakan mahkota kebesaran bagi masyarakat adat Papua. Tak hanya Frantinus, Andel dan Bruder Stephanus Paiman pun disambut dengan layaknya pejuang yang baru saja tiba dari medan perang.

Suasana di Bandara Sentani Jayapura sempat heboh saat sejumlah masyarakat yang mengenakan pakaian adat menari sembari bernyanyi membawa panah saat rombongan tiba.

Usai penyambutan di Bandara Sentani, rombongan kemudian konvoi menuju asrama mahasiswa dan pelajar Ninmin di Distrik Abepura, Jayapura. Disana, para mahasiswa maupun masyarakat asal Nduga juga sudah berkumpul.

Mereka menyambut Frantinus dengan tradisi adat Barapen (Bakar Batu) yang dilanjutkan dengan ibadat syukuri atas kepulangan Frantinus.

“Akhirnya saya bisa kembali, seharusnya saat sudah menyelesaikan studi di Pontianak beberapa waktu lalu, saya sudah pulang ke Papua,” ujar Frantinus sambil menahan rasa haru, Rabu sore.

“Bagi saya, itu sebuah musibah. Tapi bagi penegak hukum, itu dianggap sebuah kasus,” sambungnya.

Mewakili masyarakat Papua, Anggota DPRD Provinsi Papua Nason Uty berharap peristiwa serupa tidak terjadi lagi dan dialami warga Papua pada umumnya. Meski demikian, pihak keluarga mengaku senang dengan kepulangan Frantinus yang kelak diharapkan bisa membangun tanah kelahirannya, Papua.

“Kita bersyukur, karena akhirnya adik kami ini, Frantinus bisa pulang dan berkumpul kembali bersama keluarga besar di Papua,” ujar Nason.

Nason juga menyampaikan terima kasih atas nama rakyat Papua terutama kepada pengacara Andel dan Bruder Stephanus Paiman yang mewakili masyarakat Kalimantan Barat di Pontianak yang membantu Frantinus Nirigi sehingga ia bisa berada di Papua.

“Semoga Tuhan memberkati di setiap pelayanan kemanusiaan mereka,” ujar Nason Utty.

Mewakili masyarakat Papua, Nason juga menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung yang membantu dan mendampingi proses hukum Frantinus selama ini.

Refleksi Karya Pelayanan Gembala

Tak hanya penyambutan di bandara dan asrama, Frantinus bersama Bruder Stephanus dan kuasa hukumnya Andel dan Aloysius Renwarin dari Papua juga berbagi cerita dan pengalaman dalam menangani dan mendampingi proses hukum yang dialami Frantinus.

Rangkaian acara tersebut juga dikemas dalam tajuk Refleksi Pelayanan Gembala yang disampaikan oleh Bruder Stephanus dengan tema Tangisan Anak Papua Korban SOP Pesawat Lion Air yang digelar di Hotel Horison, Jayapura pada Rabu malam.

Kegiatan tersebut dihadiri berbagai kalangan di Papua, mulai dari Anggota DPRD Papua, para Pendeta, Penginjil serta perwakilan mahasiswa dari Universitas Cenderawasih dan masyarakat begitu serius menanggapi presentasi tentang Karya FRKP dan JPIC Kapusin yg dipaparkan oleh bruder Stephanus Paiman OFM Cap tersebut.

Panjangnya proses hukum yang menjerat Frantinus hingga dia bebas dan bisa kembali ke Papua tak terlepas dari sosok Bruder Stephanus yang selalu memantau dan mendampingi Frans selama berurusan dengan hukum.

Dalam pemaparannya, Bruder Stephanus menjelaskan bahwa Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) yang merupakan forum pelayanan kemanusiaan menunjuk salah satu anggotanya, Andel sebagai kuasa hukum untuk menangani kasus ini.

Bruder Stephanus memilih untuk tinggal dan berkarya di luar biara untuk memudahkan pergerakannya dalam karya dan pelayanan kemanusiaan.

FRKP yang didirikan sejak tahun 2006 yang beralamat di Jalan Purnama 9 ini pun tidak terikat oleh lembaga gereja, organisasi, keuskupan bahkan Pemerintah Daerah. FRKP hadir dalam pelayanan kemanusiaan untuk menolong masyarakat tanpa memandang agama, suku bangsa dan bahasa.

Meski dalam misi pelayanan banyak tantangan, namun semua itu tidak membuatnya menyerah. Termasuk ketika menangani kasus yang dialami Franstinus.

Presentasi lebih dari 2 jam itu pun tidak membuat hadirin beranjak, meski sudah larut malam. Pada saat sesi tanya jawab hampir 90 persen dari peserta meminta kesediaan Biarawan Kapusin ini untuk membuka cabang di Papua.

Bahkan, Nason Utty berencana untuk kembali mendatangkan Bruder Step ke Papua untuk berbagai dan membantu masyarakat Papua merintis karya pelayanan kemanusiaan seperti yang dilakukan FRKP dan JPIC Kapusin disana.

“Puji Tuhan bahwa kami bertiga mewakili masyarakat Kalbar diterima dengan sangat-sangat baik oleh masyarakat adat Papua, khususnya suku Mbuga yang merupakan suku asli dari Frantinus Nirigi,” ungkap Bruder Stephanus.

“Kami tak mengira akan disambut dengan tarian perang dan bakar batu sebagai adat mereka. Kami bertiga sudah diangkat sebagai bagian dari sub suku Mbuga Papua,” sambungnya.

Bruder Stephanus berharap, semoga karya seperti FRKP dan JPIC Cap dapat dilakukan oleh masyarakat Papua didaerahnya sendiri oleh putra-putri Papua. (*/noy)