Turiman, Pengembangan Teknologi Tumpang Sari di Desa Kenaman

oleh -3.141 views
Sution, peneliti BPTP Kalbar di lahan pertanian yang menerapkan teknologi Turiman di Desa Kenaman, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau.

SANGGAU, KILASKALBAR.com – Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalbar mengembangkan teknologi tumpang sari tanaman (Turiman) di Desa Kenaman, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Turiman merupakan pengembangan teknologi tumpang sari antara padi, jagung dan kedelai yang diterapkan pada Mei 2018 lalu di lahan seluas 7 hektare.

“Ini kita persiapan lahan dari bulan April (2018), tanamnya Mei akhir,” ujar Sution, Peneliti BPTP Kalbar di lokasi Turiman Desa Kenaman, Kamis (26/7/2018) lalu.

Sution mengatakan, penerapan Turiman berawal dari tantangan Dirjen Tanamam Pangan Kementan RI kepada BPTP Kalbar, di mana teknologi ini belum pernah sekalipun dilakukan di daerah manapun. Turiman adalah tumpang sari yang mengkombinasikan tiga tanaman pangan, yaitu padi, jagung dan kedelai (pajale). Untuk padi, jenis yang digunakan adalah padi gogo.

“Tumpang sari ada tiga pola di sini. Yang pertama pola tumpang sari padi dengan jagung, yang kedua padi dengan kedelai, yang ketiga kedelai dengan jagung,” ucapnya.

Ia menjelaskan, tujuan Turiman tidak lain untuk mengefisiensikan lahan. Perbedaannya dengan teknologi tumpang sari biasa, Turiman menerapkan pemadatan populasi tanaman.

“Terutama seperti jagung yang biasanya per hektare 66 ribu, kita coba dengan jarak yang agak rapat sehingga kita menghasilkan dalam 1 hektare kurang lebih 66 ribu tanaman. Dari segi populasi tidak berkurang. Padi demikian juga. Populasi padi juga kurang lebih sekitar 160-an ribu per hektare,” katanya.

Selain itu, tujuan tumpang sari yang menerapkan kombinasi tanaman adalah jika di salah satu tanaman kurang berhasil tapi di tanaman lain produksinya berhasil, maka hasilnya dapat menutupi produksi yang tidak maksimal tersebut.

Tantangan terberat teknologi Turiman, yakni di pengairan dan gulma. Pasalnya, media tanamnya di lahan kering.

“Karena kita menggunakan lahan kering, lahan kering inikan tentu namanya tanaman itukan perlu air. Dan apalagi saat ini kita memasuki musim kering, sehingga kendala utama di pengairan,” kata Sution.

Sebagaimana diketahui, pemerintah telah menggulirkan program penanaman padi di lahan kering dengan sistem pengairan sumur bor. Hasilnya, Desa Tunggal Bhakti di Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Kamis (26/7/2018), mampu panen raya. Artinya, pengairan tanaman dengan teknologi turiman di lahan kering sudah bisa teratasi.

Ke depan, teknologi Turiman tidak menutup kemungkinan dikembangkan ke daerah-daerah di luar Sanggau. Maka dari itu, ucap Sution, dalam praktiknya penerapan teknologi ini melibatkan para penyuluh pertanian yang ada di sekitar lokasi.

“Jika terjadi keberhasilan, sehingga teknologi ini bisa menyebar ke petani-petani yang lain, terutama di desa-desa lain,” tuturnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan-TPH) Kalbar, Heronimus Hero mengapresiasi teknologi Turiman. Ia berharap ke depan Turiman bisa diterapkan di berbagai daerah di Kalbar sebagai salah satu upaya pemanfaatan lahan. (qrf)