Kapok Setelah Dideportasi dari Malaysia, Gadis Cantik Asal Singkawang Ini Berencana Berwirausaha

oleh -7.991 views
Weni Natalia saat ditampung di Kantor Dinas Sosial Provinsi Kalbar, Pontianak, Minggu (27/5/2018).

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – Tertangkap untuk kedua kalinya oleh pihak imigresen setempat saat razia tenaga kerja ilegal, Veni Natalia (23) mengaku kapok kembali ke Malaysia menjadi tenaga kerja.

Bagi gadis berparas cantik asal Kota Singkawang ini, merasakan dipenjara di Malaysia sekitar satu setengah bulan, sudah cukup buatnya untuk dijadikan pelajaran betapa kerasnya risiko bekerja di negeri orang.

“Nggak,” ujarnya menyatakan tidak ingin kembali bekerja di Malaysia, saat ditanya Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalbar, Yuliana Marheni, di Kantor Dinsos, Pontianak, sesampainya Veni dideportasi dari Malaysia, Minggu (27/5/2018) malam.

Meski sempat dipenjara, Weni mengungkapkan dirinya diperlakukan dengan baik oleh pihak kepolisian di sana. Di penjara, Weni bersama beberapa rekan sepekerjaan yang sama-sama tertangkap sebagai tenaga kerja ilegal.

“Nggak, nggak ngelakuin apa-apa, kayak kita di rumah. Kita makan dikasi makan, terserah kita mau ngapain. Di sana nggak ada kegiatan apa-apa. Satu tempat buat khusus kita perempuan aja,” katanya.

Veni merupakan satu dari 118 tenaga kerja Indonesia (TKI) bermasalah yang baru saja dideportasi dari Malaysia. Veni ditangkap karena ia tidak memiliki izin bekerja atau Permit (work pass), melainkan hanya punya paspor kunjungan.

“Kemarin lagi kerja langsung digerebek, diserbu,” terang Veni.

Bekerja di Malaysia sejak lima tahun lalu, Veni bermodal nekat. Karena ada temannya yang sudah dulu bekerja di sana, ia memberanikan diri pergi sendiri kendati orangtuanya tak sepenuhnya mengizinkan.

“Karena ada teman di sana, ya kita ke sana, kerja di restoran. Puji Tuhan mulus kita kerjanya pas, nggak ditipu-tipu,” katanya.

“Orang tua nggak seberapa ngizinin, cuman kita kan sudah gede sudah tahu, jadi kita ke sana sendiri,” tutur Veni.

Pertama kali bekerja, Veni mengaku gaji yang diterimanya sebagai pramusaji restoran tidaklah seberapa. Namun karena lama, akhirnya punya pengalaman, dan gaji yang ia terima semakin besar.

“Yang dulu agak kecil. Pertama kita masuk gajinya sih nggak seberapa besar. Gaji awal 850 ringgit, kalau dirupiahkan sekitar dua juta setengah. Yang sekarang karena sudah ada pengalaman, jadi sedikit besar. 1.300 ringgit, seribu tiga sekitar empat (juta rupiah) lebih,” jelas Veni yang selama bekerja tinggal difasilitasi sang majikan.

Kapok tidak lagi kembali ke Malaysia, Veni berencana mandiri, membuka usaha warung kecil-kecilan di Singkawang. Gaji hasil bekerja di Malaysia akan ia jadikan modal.

“Kalau modal, banyak sih nggak. Kalau kita buat-buat warung kecil sih ada,” tuturnya. (qrf)