Petani Sambas Dilatih Teknologi Perbanyakan Benih Tanaman Hortikultura

oleh -1.473 views
Penyerahan bibit pohon lengkeng dan bibit durian dalam pelatihan perbanyak benih atas kerjasama Anggota DPR RI, Katherine Angela Oendoen dengan BPPT Pusat di Kabupaten Sambas.

SAMBAS, KILASKALBAR.com – Komisi VII DPR RI menjalin kerjasama dengan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) melalui desiminasi teknologi perbanyakan benih tanaman buah di Kabupaten Sambas.

Kerjasama tersebut ditandai dengan kegiatan pelatihan dari BPPT bersama Anggota Komisi VII DPR RI Katherine Angela Oendoen di Hotel Pantura Jaya Sambas, Sabtu (25/8/2018). Pelatihan perbanyakan benih tanaman hortikultura secara ex-vitro, dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan perekonomian masyarakat Kabupaten Sambas.

Katherine mengungkapkan bahwa masih banyak yang belum mengenal teknik perbanyakan benih secara ex-vitro. Padahal dengan teknik ini, para petani dapat memperbanyak benih yang unggul dengan cara sederhana, cepat dan murah.

Legislator Partai Gerindra dapil Kalbar ini berharap teknologi inovasi yang dikembangkan oleh BPPT dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh petani di Kabupaten Sambas.

“Semoga BPPT dapat memberikan pemahaman kepada para petani mengenai teknik perbanyakan benih secara ex-vitro yang lebih baik sehingga produktivitas dan kualitas dapat ditingkatkan secara optimal melalui teknologi ini sehingga para petani dapat meningkat kesejahteraannya,” ujarnya.

Ia berharap, tidak hanya di Sambas, desiminasi teknologi ini bisa diterapkan di kabupaten lainnya.

“Saya berharap akan ada kegiatan serupa di Kalimantan Barat terutama di wilayah terluar, terdepan dan tertinggal. Inilah bukti kehadiran pemerintah untuk menciptakan kemandirian ekonomi dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat di Indonesia,” katanya.

Kepala Balai Bioteknologi BPPT, Dr. Agung Eru Wibowo menerangkan, tanaman buah-buahan merupakan salah satu komoditas hortikultura yang mendapat prioritas untuk dikembangkan karena usaha perkebunan buah memberikan keuntungan maksimal bagi petani.

Meski Indonesia banyak terdapat komoditas buah-buahan, lanjut dia, namun negara yang dikenal sebagai pusat pengembangan buah justru Thailand. Hal ini disebabkan karena usaha pertanaman kebun buah di Indonesia kurang didukung oleh penggunaan benih yang bermutu.

“Saat ini, penyediaan benih buah-buahan dilakukan dengan persemaian biji dan okulasi,” ucapnya.

Menurut dia, kelemahan dari benih hasil persemaian biji yaitu tidak dapat diperoleh dalam jumlah banyak, sedangkan benih hasil okulasi seringkali mengalami inkompatibilitas sehingga proses okulasinya gagal. Beberapa hal tersebut mengakibatkan ketersediaan benih buah-buahan kurang mencukupi.

Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan upaya lain untuk melestarikan tanaman buah dan mewujudkan kontinyuitas ketersediaan benih yang sesuai dengan tuntutan keadaan pada saat ini. Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan perbanyakan secara ex-vitro.

Ia menambahkan BPPT melalui Balai Bioteknologi telah melakukan inovasi teknologi perbanyakan benih tanaman secara ex-vitro, yaitu proses perbanyakan tanaman secara vegetative dengan menggunakan bagian tanaman (eksplan) yang mempunyai fase pertumbuhan cepat.

Ia menjelaskan, teknik ini merupakan mesin fotocopy untuk mendapatkan benih tanaman yang mempunyai sifat sama dengan induknya. Kelebihan teknologi ini adalah mudah, murah, perbanyakan massal, kesuksesan multiplikasi yang tinggi, mudahnya eksplan berakar, daya survival kuat pada tahap aklimatisasi, serta bias dilakukan dekat dengan tempat budidaya.

Selain itu, ia menerangkan pelatihan ini dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan teknis cara perbanyakan benih tanaman buah secara ex-vitro kepada masyarakat. Pelatihan diberikan dalam bentuk paparan teori dan praktek yang disampaikan oleh perekayasa Balai Bioteknologi BPPT.

Dalam pelaksanaan ini Ia pun berharap agar peserta termotivasi untuk melakukan usaha budidaya tanaman buah-buahan dan meningkatkan keterampilan teknis dalam perbanyakan benih, sehingga pengetahuan ini bisa tersebar dan terinformasi lebih luas kepada masyarakat dan bisa tumbuh para pelaku usaha penangkar benih di Sambas.

Pelatihan teknologi perbanyakan benih tanaman buah secara ex-vitro ini diikuti 100 peserta yang berasal dari Desa Santaban, Kaliau dan beberapa perwakilan kecamatan lainnya yang merupakan masyarakat petani di Kabupaten Sambas. (*/qrf)