Ketapang Masuk Daftar 100 Kabupaten dengan Angka Stunting Tertinggi se-Indonesia

oleh
Ilustrasi masalah pertumbuhan pada anak © 2015 Lee Clower/weestock/Corbis

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – Kabupaten Ketapang masuk dalam daftar 100 kabupaten dengan angka stunting tertinggi se-Indonesia.  Stunting merupakan masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu yang cukup lama lama. 

Umumnya, Stunting terjadi karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi yang terjadi sejak mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak berusia dua tahun. 

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Andy Jap mengungkapkan, di Kabupaten Ketapang terdapat 10 desa dengan jumlah yang dianggap paling tinggi angka stuntingnya, sehingga pemerintah melakukan upaya intervensi dalam penanggulangannya. 

“Berdasarkan data riset kesehatan dasar tahun 2013, Kalimantan Barat menduduki posisi 30 persen masalah stunting. Jumlah itu diatas angka nasional yakni 27 persen,” ujar Andy Jap, Selasa (27/3/2018)..

Berdasarkan data dari badan kesehatan dunia (WHO), setidaknya terdapat 178 juta anak berusia dibawah lima tahun di seluruh dunia yang pertumbuhannya terhambat karena stunting. 

“Sementara WHO merekomendasikan harusnya angka stunting kita dibawah 20 persen. Artinya WHO sendiri mengaku masalah stunting tidak bisa dihindari,” jelas Andy.

Secara nasional, Kalbar termasuk dalam lima provinsi yang mendapatkan perhatian khusus untuk kasus stunting se-Indonesia. pada tahun 2017 yang lalu, Kalbar menempati urutan ke 4 provinsi dengan tingkat angka stunting tertinggi se-Indonesia. 

 “Tahun ini kita sudah ada perbaikan dari tahun kemarin pada posisi empat sekarang dan sudah turun menjadi posisi kelima,” ungkap Andy.

Andy menambahkan, untuk menekan angka stunting di Kalbar, pemerintah saat ini fokus pada proses pencegahan. 

“Proses itu dimulai dari seribu hari kehidupan pertama. Pola asupan gizi harus benar-benar diperhatikan pada seribu hari pertama kehidupan yang dimulai sejak ibu hamil,” katanya. 

Dalam seribu hari kehidupan pertama, sambung Andy, masalah yang dihadapi bukan hanya soal gizi saja, namun ada kemungkinan dari faktor ekonomi, pendidikan, dan pengetahuan ditambah dengan pola asuh gizi yang kurang baik. (qrf)