Kabut Asap di Kalbar, Kata Hero Jangan ‘Kambing Hitamkan’ Pertanian Pangan

oleh -2.075 views
Kepala Distan-TPH Kalbar, Heronimus Hero.

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan-TPH) Kalbar, Heronimus Hero berharap kepada semua pihak untuk tidak ‘mengkambinghitamkam’ sektor pertanian khususnya tanaman pangan dalam kejadian kabut asap di Kalbar yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ia mengatakan, berdasarkan analisis, kemampuan masyarakat dalam mengelola lahan pertanian di Kalbar, luas 1 hektare sudah dikategorikan luar biasa. Jadi, kalaupun ada masyarakat yang membuka lahan dengan cara membakar, maka skalanya kecil.

“Jadi pertanian itu kalau dibuka lahannya lewat pembakaran, skalanya pun sangat kecil. Makanya kita tetap mantau yang pertanian tanaman pangan ini,” ujarnya usai menghadiri rapat bersama Menteri LHK Siti Nurbaya di Kantor Gubernur Kalbar, Pontianak, Senin (23/7/2018).

Menurutnya, karhutla yang disebabkan land clearing, tidak semata karena pembukaan lahan pertanian tanaman pangan. Harus dipahami, pertanian mencakup beberapa sektor.

“Ada pangan, ada perkebunan, ada peternakan. Yang pangan ini biasanya skalanya kecil-kecil,” ucapnya.

Dari pantauan Distan-TPH Kalbar, memang telah terjadi kebakaran lahan, yaitu di Kota Singkawang. Kendati begitu, Hero mengatakan, pihaknya terus melakukan pemantauan agar tidak lagi terjadi kebakaran lahan akibat pembukaan lahan pertanian.

“Makanya selalu kita pantau. Tahun ini baru 3 hektare. Mudah-mudahan tidak bertambah lagi, itu pun di Singkawang,” ujarnya.

Lebih lanjut, berkenaan dengan program luas tambah tanam (LTT) di Kalbar, Hero menjelaskan, bahwa penggunaan lahan tanam saat ini tidak dengan membuka lahan baru. Melainkan memfungsikan lahan yang sudah ada. Artinya, potensi program LTT menjadi sumber utama karhutla sehingga terjadi kabut asap di Kalbar sangatlah kecil.

“Potensi lahan pangan kita itu ada 1,1 juta hektare, yang baru bergerak yaitu 385 ribuan hektare. Ada yang tanam sekali, tanam dua kali sehingga kita total tanaman biasa setiap tahun itu 590-an ribu hektare. Nah itu tidak memakai lahan lain, lahan baru yang harus buka sebenarnya,” katanya.

“Memang ada beberapa yang membuka lewat perladangan, itu tinggal optimalisasi. Artinya memang itu peruntukan lahan pertanian, jadi tidak mengambil lahan hutan,” tutur Hero. (qrf)