Perdagangan Sisik Trenggiling, Sadtata: Perlu Diskusi Panjang

oleh -1.978 views
Sisik trenggiling kering.

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – Perdagangan satwa yang dilindungi di Kalimantan Barat masih marak terjadi. Beberapa waktu lalu, dua tersangka kasus perdagangan sisik trenggiling di Kabupaten Melawi berhasil diamankan dalam operasi tangkap tangan oleh SPORC Brigade Bekantan Balai Gakkum KLHK Kalimantan Seksi Wilayah III Pontianak.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kalbar, Sadtata Noor Adirahmanta berpandangan, terkait dengan perlindungan dan penyelamatan satwa, dibutuhkan perhatian dari berbagai pihak.

“Memang kita perlu diskusi panjang bersama sama untuk menemukan solusi jangka panjang dan menyeluruh. Penegakan hukum hanyalah salah satu alat dalam perlindungan satwa liar,” ujarnya di Pontianak, Senin (23/7/2018).

Baca juga: Dua Tersangka Penjual Sisik Trenggiling di Melawi Siap Disidangkan

Ia mengatakan, trenggiling menjadi salah satu satwa dilindungi, bukan hanya di Kalbar. Bahkan di beberapa daerah, penangkapan satwa bernama latin Manis Javanica ini, untuk diperdagangkan sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan.

Ia menjelaskan, untuk jenis-jenis tertentu, trenggiling ditetapkan sebagai jenis dilindungi.

“Bisa disebabkan oleh berbagai pertimbangan, antara lain kelangkaan, fungsinya di dalam ekosistem dan lain-lain,” kata dia.

Di Indonesia, trenggiling dilindungi berdasarkan Undang-undang  Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Selain itu, Appendix 1 CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang artinya mendapat perlindungan penuh dari segala bentuk perdagangan

Saat ini, populasi trenggiling di Indonesia sangat mengkhawatirkan karena kegiatan manusia yang mengeksploitasi satwa ini secara berlebihan. Mitos ampuh dijadikan ramuan obat-obatan dan kecantikan, menyebabkan satwa ini terus diburu sehingga keberadaannya semakin terancam punah.

Populasi trenggiling di alam yang semakin berkurang tentunya akan berpengaruh langsung pada ekosistem fauna. Pasalnya, trenggiling merupakan predator alamiah rayap dan semut. Apabila populasi trenggiling terus berkurang, maka akan terjadi ledakan populasi rayap dan semut sehingga bisa memengaruhi keseimbangan ekosistem. (qrf)