Dijadwalkan ke Pontianak, KH Ma’ruf Amin Penuhi Undangan Dialog Kebangsaan dan Milad 1 Abad NU

oleh -2.201 views
Ist.

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – Salah satu Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), KH Ma’ruf Amin, dijadwalkan ke Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (15/9/2018).

Kehadiran pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) An-Nawawi, Tanara, Banten itu di Pontianak, dalam rangka undangan menjadi keynote speaker dialog kebangsaan “Membangun negeri tanpa diskriminasi”, yang mengusung tema “Implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat untuk kemajuan bangsa”. Acara digelar di Grand Mahkota Hotel Pontianak.

Salah satu panitia penyelenggara dari PWNU Kalbar, Sukiryanto mengungkapkan, KH Ma’ruf Amin dapat dipastikan akan hadir dalam acara tersebut.

“Saya dipercayakan NU Wilayah Kalbar menggundang KH Ma’ruf Amin untuk hadir. Walaupun harus menggeser jadwal di Klaten, beliau tetap datang ke Pontianak,” ujar Wakil Ketua Tanfidziyah PWNU Kalbar ini kepada awak media, Kamis (13/9/2018).

Sukiryanto menjelaskan, selain menjadi keynote speaker dalam dialog kebangsaan, KH Ma’ruf Amin juga direncanakan hadir dalam rangka peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (NU).

“Kehadiran KH Ma’ruf Amin untuk dua agenda, yakni dialog kebangsaan dengan mahasiswa sebagai BPIP dan Rais Amm NU di Milad 1 Abad NU di Indonesia,” katanya.

Acara dialog kebangsaan ini melibatkan lintas organisasi kemahasiswaan dan forum alumni lintas agama sebagai panitia penyelenggara.

Berkenaan dengan peringatan 1 Abad NU, Sukiryanto mengatakan, kegiatan bersifat ajang silaturahmi.

“Sifatnya ajang silaturahmi dengan seluruh pengurus PWNU Kalbar hingga ke ranting guna memperkuat NU untuk ke depannya,” ucap Sukiryanto.

Sebagaimana diketahui, KH Ma’ruf Amin adalah cawapres Joko Widodo dalam Pilpres 2019. Namun, kata Sukiryanto, kehadiran KH Ma’ruf Amin bukan sebagai cawapres.

“Tidak dalam rangka kampanye, tapi hanya dalam rangka silaturahmi,” ujarnya.

“Intinya kedatangangan KH Ma’ruf Amin dalam hal silaturahmi dan Milad 1 Abad lahirnya NU di Indonesia,” jelas Sukiryanto. (qrf)