Kementerian Pendidikan dan Lembaga Asa Puan Perkuat Pemahaman Masyarakat soal Tindak Pidana Perdagangan Orang

oleh -1.445 views
Sosialisasi pendidikan pencegahan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di Singkawang.

SINGKAWANG, KILASKALBAR.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bekerjasama dengan Lembaga Asa Puan Kalbar dan Pemerintah Kota Singkawang menggelar sosialisasi pendidikan pencegahan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Sosialisasi digelar di Aula Hotel Sentosa, Jalan Yosudarso, Kelurahan Melayu, Kecamatan Singkawang Barat, Kamis (11/10/2018).

Pengumpul dan Pengolah Data Pendampingan Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Suryani Lasari mengatakan, sosialisasi ini diberikan kepada orangtua, guru, organisasi perempuan, lurah, RT, kepala desa, lembaga non formal dan masyarakat.

“Sosialisasi diberikan kepada hulunya terutama kepada orangtua agar mereka sadar mengenai dampak TPPO ini. Tidak hanya mengandalkan pemberantasan oknum yang ditindak,” ujarnya.

Ia menuturkan, kalau masih ada orangtua dan banyak permintaan yang ingin anaknya dinikahkan atau ke luar negeri maka akan sangat rawan.

“Kalau bisa kita men-stop dari situ kemungkinan efeknya bisa lebih bagus, jadi langsung kita sasar ke hulunya,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, sosialisasi dilakukan di 20 kabupaten/kota se-Indonesia rawan TPPO satu di antaranya Kota Singkawang. Data dari berbagai sumber di antaranya Bareskrim, Kemensos, Disnakertrans, dan BNP2TKI, ternyata Singkawang juga masuk daerah rawan TPPO.

“Berdasarkan banyaknya terjadi perkawinan kontrak. Banyak pula orang yang datang ke sini dan keinginan bekerja ke luar negeri,” ucapnya.

“Ini satu di antara indikator kenapa sosialisasi dilakukan di Kota Singkawang,” timpal dia.

Sementara itu, Ketua Asa Puan Kalbar mengatakan, sosialisasi diberikan kepada elemen masyarakat secara umum.

“TPPO dapat dilakukan oleh siapapun, untuk tujuan apapun dan dalam bentuk apapun,” kata Ketua Asa Puan Kalbar, Sovia.

Prosesnya dengan melakukan perekrutan pada calon korban. Kemudian melakukan pengangkutan, pengiriman, penampungan dan proses penerimaan.

Metodenya beragam. Mulai dari ancaman, kekerasan, penculikan, penipuan, pemalsuan, paksaan, hingga penyalahgunaan kekuasaan.

“Tujuannya untuk eksploitasi dan prostitusi,” ungkapnya. (mizar)