Soal Penunjukan Plh Sekda, M Zeet Sebut Sutarmidji Dendam dan Berbohong

oleh -1.833 views
M Zeet Hamdy Assovie.

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – M Zeet Hamdy Assovie akhirnya buka suara terkait jabatannya sebagai Sekda Kalbar yang digantikan oleh Syarif Kamaruzaman sebagai Plh Sekda oleh Gubernur Kalbar Sutarmidji, Rabu (10/10/2018).

Sebagaimana diketahui, Zeet sempat cuti yang akhirnya posisi dirinya digantikan dengan Plh Sekda Kamaruzaman.

Zeet menegaskan, apa yang selama ini dibeberkan Gubernur Sutarmidji baik melalui media sosial maupun media massa adalah bohong. Ia menjelaskan secara rinci berkenaan dirinya cuti.

“Pada tanggal 3 September sampai tanggal 19 September 2018, Sekda Provinsi cuti yang ditandatangani oleh Pj Gubernur. Pada tanggal 5 September 2018 Gubernur baru dilantik. Pada tanggal 12 september 2018 Gubernur menyurati Mendagri perihal pengembalian status pembinaan eselon 1b. Pada tanggal 18 September 2018, Gubernur menyurati saya untuk pemberitahuan tentang suratnya ke Mendagri dan penempatan Sekda di Badan Kepegawaian Daerah,” ungkap Zeet melalui pesan WA.

Lanjut Zeet, pada 20 September 2018 jabatannya sebagai Sekda kembali aktif dari cuti dan langsung melapor ke Gubernur untuk meminta arahan.

Namun sayangnya, kata Zeet, Gubernur Sutarmidji enggan mengakuinya sebagai Sekda yang masih aktif, melainkan menganggap dirinya sebagai Sekda definitif.

“Gubernur menjawab bahwa SK Plh Sekda diperpanjangnya dan Gubernur tidak mau menggunakan Sekda definitif. Tanggal 28 September 2018 pembahasan APBD P yang dipimpin Plh Sekda ditolak oleh dewan. Proses APBD P tidak terjadi sampai batas waktu terakhir sesuai UU yaitu tanggal 30 September 2018,” terangnya.

“Tanggal 28 September 2018 Gubernur menyurati Sekda untuk memilih jabatan yang ditawarkannya. Dari staf ahli sampai ke staf atau pindah ke lembaga lain dengan batas waktu 7 hari harus jawab. Tanggal 5 Oktober 2018 Sekda jawab surat Gubernur bahwa saya tidak dalam kapasitas memilih karena Gubernur sudah meminta keputusan Mendagri tapi belum dijawab, dan saya katakan tunggu saja jawaban pusat,” timpal Zeet.

Baca juga: Komisi ASN Sebut Keputusan Gubernur Kalbar Tunjuk Plh Sekda Bertentangan dengan Perpres

Ia menerangkan bahwa surat-surat Sekda telah dilayangkan ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), Mendagri, BKN, Menpan RB dan Presiden RI.

“Itu semua komunikasi saya dengan Gubernur terpilih yang intinya adalah Midji telah berbohong, berbohong dan terus berbohong. Karena kebohongan pertama kali yang dibuatnya akan ditutupinya dengan berbohong lagi dan lagi dan lagi,” ucap dia.

Berkenaan dirinya yang dikatakan Sutarmidji tidak lagi kasuk kerja sehingga ada alasan Gubernur menunjuk Plh Sekda, Zeet menyatakan bahwa ia selalu masuk kantor seperti biasa meski ia menilai tidak diperlakukan selayaknya Sekda.

“Saya selalu masuk kantor sedangkan dia (Sutarmidji) tidak memberdayakan saya sebagai Sekda karena dendam pribadi yang kesumat,” bebernya.

“Saya ingin katakan secara jujur bahwa dengan sangat sadar saya setelah lima tahun mengabdi yaitu akhir tahun 2015, saya mengikuti open bidding atau tes pada jabatan Dirjen Otda, masuk tiga besar namun belum dapat kesempatan,” ungkapnya.

Dan awal tahun 2018, kata Zeet, dibuka lagi kesempatan open bidding pada Sekjen DPD RI, dan dirinya masuk tiga besar.

“Saya katakan pada Gubernur bahwa saya mohon bisa didorong untuk mutasi ke jabatan tersebut. Jika saya lolos berkat bantuan Gubernur, maka proses pengabdian saya berlanjut untuk membantu daerah dan sekaligus tempat jabatan Sekda menjadi lowong,” terangnya.

“Alih-alih membantu putra daerah yang ingin berkarir ke pusat, justru yang dilakukannya terhadap saya adalah membunuh karakter saya, menghina saya, menghancurkan karir saya, membully saya, mengusir saya karena sesuatu yang tidak dapat saya pahami,” katanya.

“Saya katakan pada Gubernur, jika Pak Gubernur konflik dengan saya, apakah konflik ini tidak bisa kita kelola bersama untuk kebaikan Kalbar daripada terus melakukan upaya-upaya yang tidak terpuji di mata publik,” tambah Zeet.

Lehib lanjut ia mengatakan, upaya untuk ikut tes di tingkat pusat merupakan ketulusan dirinya untuk mendukung Gubernur terpilih sehingga ada kader penerus dirinya yang dapat mencerminkan semangat kebhinekaan di Kalbar yang majemuk.

“Saya juga dulu dipilih justru karena semangat itu yang ditunjukkan oleh Pak Cornelis dan Pak Christiandy Sanjaya. Atas dasar itulah saya sadar dan giving way kepada adik-adik saya untuk mereposisi jabatan ini dengan cara bermartabat, tapi apa yang saya terima justru sebaliknya, tuduhan, fitnah, semangat kebencian dan penghinaan bertubi-tubi seolah-olah jabatan sekda adalah segala-galanya. Saya adalah seorang aparatur sipil negara yang tunduk patuh pada aturan negara bukan pada seseorang penguasa. Sebagai aparatur sipil negara apapun yang ditugaskan oleh pemimpin sepanjang sesuai aturan, pasti seorang ASN wajib mentaatinya,” tuturnya. (*/noy)