Habitat Orangutan di Wajok Hilir Rusak

oleh -2.143 views
Seekor orangutan jantan dewasa bergelantungan di pohon Albasia di sekitar kebun warga di Desa Parit Yakob, Kabupaten Mempawah, Minggu (1/7/2018), sebelum akhirnya berhasil diselamatkan warga setempat. (Istimewa)

PONTIANAK, KILASKALBAR.com – Ketua Forum Konservasi Orangutan Kalimantan Barat (Fokkab), M Syamsuri, mengatakan, kasus seekor orangutan berkeliaran di sekitar pemukiman warga di Desa Parit Yakob, Kecamatan Wajok Hilir, Kabupaten Mempawah, belum lama ini, karena adanya indikasi habitat satwa yang dilindungi tersebut telah rusak.

“Orangutan bergeser ke pemukiman itu, pasti habitatnya atau tempat dia hidup itu sudah rusak bahasa sederhananya,” ujarnya kepada awak media di sela jumpa pers bersama pihak Balai KSDA Kalbar di Pontianak, Senin (2/7/2018).

Syamsuri mengungkapkan, pihaknya telah memetakan, bahwa pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri (HTI) kian marak terjadi di wilayah Wajok Hilir dan beberapa daerah sekitarnya.

Akibatnya, orangutan berpindah dari habitat asalnya, selain faktor saat ini mulai memasuki musim di mana tanaman hutan sebagai sumber pakan orangutan sedang tidak berbuah.

“Kita sudah mengkaji dalam sekian tahun ini, pembukaan perkebunan sawit dan HTI di sekitar Wajok Hilir ini agak mulai marak. Apalagi ini sudah mulai masuk musim hutan tidak berbuah. Kita tahu bahwa orangutan itukan pakannya lebih banyak sebenarnya makanan buah. Kalau ada yang bilang orangutan makan pisang segala macam, itu makanan tambahan,” kata Syamsuri.

Baca juga: Warga dan Balai KSDA Berhasil Selamatkan Orangutan yang Berkeliaran di Sekitar Pemukiman

Ia mengungkapkan, terjadi pembukaan lahan yang cukup besar di lanskap Purun (Kabupaten Mempawah) hingga Ambawang (Kabupaten Kubu Raya). Hal ini bisa dilihat di mana bentang alam dari Peniraman, Mempawah sampai ke Kubu Padi, Kubu Raya, izin-izin perkebunan kelapa sawit dan HTI itu sudah aktif.

Syamsuri menjelaskan, dalam aturannya, lahan-lahan konsesi seperti di sekitar sumber atau aliran air dilarang untuk dilakukan pembukaan lahan perkebunan. Demikian pula kawasan yang di situ menjadi habitat hewan-hewan yang dilindungi.

“Para pihak perusahaan atau investor itu sebenarnya juga sudah diatur dengan adanya istilahnya NKT. NKT itu kawasan bernilai konservasi tinggi. Jadi itu tidak boleh lahan yang dikonsesi itu bisa dibuka. Misalnya sekitar sungai, lalu sumber-sumber mata air, lalu adanya tempat-tempat hidup hewan-hewan yang dilindungi itu tidak boleh dibuka semestinya,” ujar Syamsuri.

Syamsuri mengatakan, orangutan berkeliaran di sekitar pemukiman warga ini bukanlah kasus yang pertama. Dari 2012, kasus serupa juga terjadi.

“Inikan baru yang masuk ke pemukiman baru enam. Kasus yang di Peniraman beberapa tahun yang lalu, lalu kasus yang di daerah Panca Bakti, dan ini kasus yang ketiga. Enam sampai delapan (kasus) paling banyak,” katanya.

Syamsuri menyebutkan, hasil identifikasi para peneliti orangutan di Kalbar, tidak kurang dari 15 individu orangutan hidup di lanskap antara Peniraman-Kubu Padi.

“Kita juga dari para peneliti orangutan sebenarnya orangutan itu masih ada sekitar 5 hingga 8 individu masih ada sebenarnya. Itu karena kita sudah melakukan survei dan riset, perkiraan kita itu 10-15 individu orangutan dari Peniraman hingga Kubu Padi,” ujarnya.

Kasus orangutan yang berkeliaran di sekitar pemukiman warga di Desa Parit Yakob, kini sudah ditangani. Pihak Balai KSDA Kalbar dibantu warga setempat, berhasil menyelamatkan seekor orangutan jantan dewasa tersebut.

Selanjutnya, orangutan itu akan dititiprawatkan di Sintang Orangutan Centre (SOR) di Kabupaten Sintang. Rencananya, Senin (2/7/2018) malam ini akan diberangkatkan.

Syamsuri mengatakan, pihaknya bersama Balai KSDA Kalbar akan melakukan survei ulang terkait kelayakan habitat orangutan di lanskap Peniraman-Kubu Padi, termasuk habitat ditemukannya orangutan di sekitar Desa Parit Yakob.

“Kami sudah sepakat denga BKSDA dalam minggu-minggu depan itu kita akan menyurvei ulang berapa individu, dan kami juga akan mengkaji kelayakan habitatnya. Kalau memang sekarang habitatnya tidak mendukung untuk hidup, kita akan relokasi. Tapi kalau daya dukungnya masih ada, itu kita akan pertahankan orangutannya untuk tetap ada di sana,” tutur Syamsuri. (qrf)