Napak Tilas Damai Tumbang Anoi, Momentum yang Ditunggu Dayak Dunia

oleh -1.563 views
Abelnus.

SAMBAS, KILASKALBAR.com – Ketua Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional (ICDN) Kabupaten Sambas, Abelnus, mengapresiasi terselenggaranya Seminar Internasional dan Ekspedisi Napak Tilas Damai Tumbang Anoi 1894-2019 yang dilaksanakan pada 21-24 Juli 2019 lalu.

Menurut Abel, jika mencermati hasil  Protokol Tumbang Anoi 21-24 Juli 2019, poin penting tuntutan suku Dayak kepada pemerintah dan dunia, agar mengakomodir kepentingan suku Dayak di Pulau Dayak, terutama di Indonesia adalah menuntut kepada pemerintah pusat untuk memberikan jalur khusus kepada putra/putri Dayak dalam rekrutmen seluruh sekolah kedinasan milik pemerintah pusat, rekrutmen Akpol dan Akmil, meminta kepada Presiden terpilih Joko Widodo agar memasukkan putra/putri Dayak menjadi menteri/staf presiden/kedutaan dan pimpinan perusahaan BUMN dan tuntutan kepada pemerintah pusat agar melakukan moratorium terhadap pemberian izin perkebunan skala besar seperti perkebunan kepala sawit di tanah Dayak.

“Menurut hemat saya yang paling penting untuk duku Dayak terutama di Indoneaia adalah terakomodirnya Jjalur khusus rekrutmen putra/putri Dayak masuk sekolah kedinasan seperti IPDN, Imigrasi, Bea Cukai, Perpajakan dan Akpol serta Akmil yang sampai saat ini masih sangat sedikit bahkan beberapa sekolah kedinasan putra/putri Dayak hampir tidak ada,” ujarnya, Selasa (30/7/2019).

Selain itu, menyikapi keputusan pemerintah pusat yang akan menjadikan Pulau Dayak sebagai ibu kota negara,  maka pemerintah harus memberikan otonomi khusus kepada kebudayaan suku Dayak.

Menurut Abelnus, Seminar Internasional dan Ekspedisi Napak Tilas Damai Tumbang Anoi 2019 merupakan momentum yang ditunggu-tunggu suku Dayak dunia di Pulau Dayak.

“Ini merupakan momentum langka, dan antusiasme masyarakat Dayak dunia sangat tinggitinggi,” ungkap Abel.

Suku Dayak Indonesia, Suku Dayak Federasi Malaysia dan Suku Dayak Kerajaan Brunai Darusalam hadir pada seminar tersebut.

125 tahun lalu perwakilan sub suku Dayak  berkumpul di Tumbang Anoi. Itu bukan perkara mudah, karena pada masa itu infrastruktur dan listrik belum ada, namun itu bukan penghalang untuk mereka hadir di sana.

“Kita selaku generasi muda suku Dayak harus mendukung dan melestarikan sejarah yang telah diukir oleh suku Dayak dahulu,” tutup Abelnus. (noy)