Bupati Landak Resmi Melaunching Kompor KMN

oleh -154 views
Bupati Karolin mencoba memasak dengan kompor KMN. (IST)

LANDAK, KILASKALBAR.com – Bupati Landak Karolin Margret Natasa secara resmi melakukan launching Kompor Kompor Merah Putih Nusantara (KMN) di Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kabupaten Landak pada Kamis (28/11/2019) Pagi.

Acara launching Kompor Merah Putih Nusantara (KMN) ini dihadiri juga oleh anggota Forkopimda Kabupaten Landak, Sekretaris Daerah Kabupaten Landak, Plt Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Landak, para Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat serta para tamu undangan lainnya.

Melihat kebutuhan masyarakat akan LPG (Liquified Petroleum Gas) cenderung meningkat, seiring dengan peningkatan pertumbuhan penduduk. Dengan adanya kebijakan konversi minyak tanah ke LPG, menyebabkan satu-satunya energi yang tersedia adalah LPG.

Untuk itu ketua panitia Alpius menyampaikan dengan adanya launching KMN (Kompor Merah Putih Nusantara) ini dilakukan dalam upaya memberikan alternatif baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Tujuan pelaksanaan KMN ini adalah memberikan informasi mengenai bagaimana cara merakit kompor KMN dan memanfaatkan brondol sawit sebagai bahan utama energi alternatif bahan bakar berbentuk gas nabati untuk bahan bakar pemenuhan kebutuhan gas dalam rumah tangga pengganti elpiji,” ujar Alpius.

Sebelumnya Dinas Pertanian,Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Landak telah menggelar pelatihan perakitan Kompor KMN yang dilaksanakan pada Rabu (27/11/2019) kemarin yang diikuti sebanyak 50 orang terdiri dari 26 orang dari petugas pertanian lapangan, 20 orang dari pemuda katolik, dan 4 orang dari Dinas Pertanian.

Bupati Landak dr. Karolin Margret Natasa sangat mengapresiasi diciptakannya produk baru yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Kehadiran Kompor KMN ini merupakan produk anak bangsa dikarenakan melihat situasi dan perkembangan yang ada Indonsesia saat ini,” kata Karolin.

Karolin mengatakan LPG dipengaruhi oleh faktor internal yaitu apabila keuangan Negara menipis maka impor dikurangi. Hal ini dikarenakan bantuan subsidi semakin berkurang. Sehingga Kabupaten Landak mencari solusi untuk mengatasi keadaan ini.

“Seiring dengan situasi saat ini dimana pemerintah merasa sangat berat dengan adanya subsidi negara yang semakin tidak memungkinkan untuk memberikan subsidi yang besar, maka ke depan akan ada perorangan subsidi kepada masyarakat, selain karena dirasakan tidak tepat sasaran karena banyak yang mengkonsumsi bukanlah yang berhak menerima,” ungkap Karolin.

Ia juga mengatakan saat ini LPG sangat diperlukan sebagai alternatif sumber energi untuk memenuhi sumber kebutuhan dasar rumah tangga sehingga cendrung mengalami kelangkaan.

“Oleh karena itu, disaat LPG langka dibutuhkan alternatif sumber energi lain untuk memenuhi energi dasar rumah tangga yaitu memasak,” jelas Karolin.

Menghingat kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang paling banyak diusahakan di kabupaten Landak, dengan luas area perkebunan kelapa sawit mencapai 122.608 hektar, yang perkebunan terbesarnya berada di kecamatan nagabang yaitu 43.155 maka kehadiran kompor ini untuk dapat digunakan memasak dengan bahan bakar berasal dari kelapa sawit maka direncanakan program tersebut akan terus dikembangkan di Kabupaten Landak.

“Oleh karena itu Bapak/Ibu mudah-mudahan ini bisa menjadi solusi membantu masyarakat kita dalam menciptakan alternatif bahan bakar,” terang Karolin.

Bupati Landak berharap setelah adanya program Kompor Merah Putih yang memanfaatkan bahan bakar dari kelapa sawit ini, masyarakat bisa membudidayakan kelapa sawit di lahan perkarangan dengan skala rumah tangga.

“Dengan Kompor Merah Putih Nusantara ini, diharapkan petani kelapa sawit tidak tergantung sepenuhnya pada pabrik kelapa sawit, sehingga apabila harga kelapa sawit jatuh/turun petani dapat menjual kelapa sawitnya di koperasi yang dirancang untuk menampung kelapa sawit, sehingga kebutuhan energi masyarakat Kabupaten Landak untuk memasak dapat dipenuhi dari hasil penjualan kelapa sawit yang ada,” tutup Karolin. (*)