Baguna Kalbar Bantu Warga Terdampak Kabut Asap

oleh -1.375 views
Kepala Baguna DPD PDI Perjuangan Kalbar, Angeline Fremalco membagikan masker ke warga.

KETAPANG, KILASKALBAR.com – Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) DPD PDI Perjuangan Provinsi Kalbar menunjukkan kepedulian terhadap bencana kabut asap akibat Karhutla yang sudah terjadi hampir satu bulan terakhir. Kali ini, tim medis Baguna turun ke pedalaman Kalbar yaitu ke Kabupaten Ketapang yang menjadi penyumbang titik api terbanyak di Kalbar.

“Kemarin hari Minggu (22/9/2019) kita turun ke Kabupaten Ketapang. Membagikan masker dan pengobatan gratis,” kata Kepala Baguna DPD PDI Perjuangan Kalbar, Angeline Fremalco, Senin (23/9/2019).

“Ini bentuk kepedulian Baguna Kalbar untuk membantu pemerintah dan meringankan dampak kabut asap yang sudah pasti dirasakan masyarakat,” timpalnya.

Dari hasil kunjungannya ke Kabupaten Ketapang tepatnya di Desa Sungai Pelang dan Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Angeline merasa prihatin karena warga di sana terpapar kabut asap yang cukup parah.

“Lahan yang terbakar itu dekat dengan pemukiman warga. Sehingga warga banyak yang kena batuk dan pilek. Mereka juga butuh penanganan medis lebih lanjut,” lanjut Angeline yang juga Anggota DPRD Kalbar terpilih itu.

Membantu masyarakat yang terdampak kabut asap sudah menjadi komitmen Baguna Kalbar. Hal itu juga sejalan dengan arahan Ketua Umum PDI Perjuangan melalui Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dalam Rakerda I PDI Perjuangan di Hotel My Home, Sintang, Jumat (13/9/2019) lalu.

“Ibu Mega berpesan, jagalah lingkungan dengan baik. Justru PDI Perjuangan dipimpin Ketum seorang perempuan selalu mengingatkan pentingnya keseimbangan dengan alam raya dengan menjaga lingkungan,” katanya.

Megawati juga ujar Hasto, mengingatkan agar kader tahu jika Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri adalah Ketua Umum Yayasan Kebun Raya Indonesia.

Oleh karena itu, sudah sewajarnya para kader menjaga hutan-hutan di Kalimantan Barat dan tidak membabat hutan demi keuntungan ekonomi.

“Sehingga kita jangan sampai karena ambisi untuk mengejar keuntungan ekonomi, hutan-hutan dibabat lalu dibiarkan dan diganti dengan tanaman monokultur, tanaman yang sangat egois yaitu kelapa sawit,” jelas Hasto. (*/noy)