Sikapi Kebakaran Lahan Gambut, BRG Siapkan Operasi Pembasahan

oleh -1.347 views
Sekolah Lapang Petani Gambut 2019 di Desa Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara. (IST)

PONTIANAK, KILASLALBAR.com – Dalam seminggu terakhir ini, Provinsi Kalbar kembali mengalami kebakaran hutan dan lahan, khususnya di lahan gambut. Di beberapa lokasi seperti di Desa Sungai Rasau Kecamatan Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah dan Desa Teluk Bakung Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya kebakaran dilaporkan terjadi.

Selain itu, kebakaran lahan walaupun dalam skala kecil juga terpantau terjadi di Desa Sarang Burung Danau Kecamatan Jawai Kabupaten Sambas, Desa Padu Banjar Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara, dan di Desa Sungai Asam Kecamanatan, Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya.

Musim panas tahun ini memang relatif lebih panjang dibanding tahun lalu sebagaimana prediksi Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Kebakaran adalah salah satu penyebab kerusakan ekosistem gambut. BRG sebagaimana mandat Perpres 1 tahun 2016, tugasnya adalah mengkoordinasi dan memfasilitasi para pihak dalam upaya terpadu, terencana dan sistematis untuk memulihkan ekosistem gambut.

Kegiatan restorasi antara lain dilakukan melalui Rewetting (pembasahan kembali), Revegetasi (penanaman areal bekas terbakar) dan Revitalisasi (peningkatan ekonomi sumber penghidupan masyarakat). Disamping itu dilakukan penyiapan dan pemberdayaan kelembagaan sosial ekonomi masyarakat melalui Program Desa Peduli Gambut.

“Pekerjaan BRG lebih pada upaya pencegahan kebakaran dan berbagai bentuk kerusakan ekosistem gambut lain. Kami bekerja di hulu. Karena itu kami juga melakukan pemantauan terhadap potensi kekeringan pada lahan gambut melalui pengukuran real time terhadap tinggi muka air di lahan gambut serta kelembaban gambut. Sistem itu kami namakan SIPALAGA,” jelas Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG, Dr. Myrna A. Safitri, melalui rilis, Senin (22/7/2019).

Terkait kondisi faktual terjadinya kebakaran lahan gambut di wilayah kerja restorasi, berdasarkan Peraturan Kepala BRG Nomor P.6/KaBRG/2019, BRG memiliki skema Operasi Pembasahan Cepat Lahan Gambut Terbakar (OPCLGT) dan Operasi Pembasahan Gambut Rawan Kekeringan (OPGRK). Jany Tri Raharjo, Kepala Sub Kelompok Kerja Kalbar pada Kedeputian Bidang Konstruksi, Operasi dan Pemeliharaan BRG RI mengatakan, “Skema OPCLGT digunakan jika terjadi kebakaran lahan gambut terjadi di wilayah kerja restorasi namun di sana belum dibangun sekat kanal dan sumur bor.” Pemerintah Desa setempat dapat menginformasikan perihal kebakaran kepada Dinas Perumahan Rakyat, Pemukiman dan Lingkungan Hidup (PerkimLH) Provinsi Kalbar selaku Satker Pelaksana Tugas BRG di Kalbar.

Sementara untuk OPGRK dikhususkan pada lokasi atau desa-desa yang telah dilaksanakan pembangunan Infrastruktur Pembasahan Gambut (IPG) sumur bor. Pada skema ini, walaupun belum terjadi kebakaran lahan, akan tetapi apabila terdapat potensi kekeringan karena tidak turun hujan paling sedikit tujuh hari seperti saat ini, adanya indikasi titik panas (hotspot), dan diprediksi berpotensi rawan kekeringan menurut BMKG, maka dapat dilakukan operasi pembasahan.

Sama dengan OPCLGT, masyarakat melalui Pemerintah Desa juga dapat meyampaikan permohonan pembasahan. Desa Padu Banjar di Kecamatan Simpang Hilir Kayong Utara, Desa Sarang Burung Danau di Kecamatan Jawai Sambas dan Desa Sungai Asam Kecamatan Sungai Raya Kubu Raya adalah contoh desa yang telah mengajukan permohonan OPGRK.

Operasi pembasahan gambut dilaksanakan dengan melibatkan Masyarakat Peduli Api (MPA) dan aparat setempat.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Pemukiman dan Lingkungan Hidup (PerkimLH) Provinsi Kalbar selaku Satker Pelaksana Tugas Pembantuan Restorasi Gambut dan Ketua TRGD Kalbar, Ir. Adi Yani, M.H., mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan Tim Karhutla Kalbar seperti BPBD, TNI/Polri, Manggala Agni dan BRG dalam hal penanganan kebakaran ini.

“Operasi Pembasahan siap dilaksanakan sesuai dengan ketentuannya. Dinas PerkimLH langsung bergerak di lapangan, baik untuk pencegahan ataupun koordinasi penanggulangan kebakaran. Kita tidak ingin kebakaran besar terjadi lagi,” terang dia.

BRG dalam program Desa Peduli Gambut, setiap tahun menyelenggarakan Sekolah Lapang Petani Gambut. Setelah Sekolah Lapang, petani diajak untuk membangun demplot percontohan untuk penerapan metode PLTB. Hermawansyah, Dinamisator Desa Peduli Gambut pada Kedeputian Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan BRG Kalbar menambahkan, dari demplot-demplot yang dibangun masyarakat, sudah membuahkan hasil.

“Masyarakat kembali semangat mengelola lahan gambut dengan tidak perlu membakar lahan. Dalam jangka panjang, jika petani sudah berubah pola pertaniannya dari membakar menjadi tidak membakar, maka kebakaran lahan gambut bisa ditekan sekecil mungkin,” kata dia.

Sejak tahun 2017 hingga sekarang, BRG telah mendampingi 49 DPG yang tersebar di Kabupaten Kubu Raya, Kayong Utara, Mempawah dan Sambas.

Tahun ini, program DPG dilaksanakan di 26 desa target restorasi di Kab Kubu Raya, Kayong Utara dan Sambas.

“Fasilitator Desa kami aktif di lapangan, untuk situasi sekarang sedang siaga satu”. Jika di desa dampingannya terjadi kebakaran atau potensial mengalami kekeringan, Fasilitator Desa kami yang memfasilitasi Pemerintah Desa dalam mengajukan permohonan operasi pembasahan,” tutur Hermawansyah. (*)